Menu

Mode Gelap
Thoriqot, Pilar Utama Pergerakan BABAD BANTEN Inkompentensi Pejabat Sangat Membahayakan Bagi Masa Depan Bangsa Belajar dari Pohon Bambu Pondok Pesantren Modern Daarul Muttaqien : Melahirkan Alumni Hebat FILSAFAT RASA: Menemukan Kembali Organ Pengetahuan Nusantara

Berita · 24 Jan 2025 01:28 WIB ·

Kisah Raja Sombong Ateis Takluk debat dengan Abu Hanifah


 Kisah Raja Sombong Ateis Takluk debat dengan Abu Hanifah Perbesar

Serang (babadbanten.com). Golongan Atheis yang Percaya pada Teori Evolusi, Sesungguhnya keberadaan Allah SWT itu telah dipercayai oleh seluruh makhluk yang ada, tidak ada yang mengingkarinya, kecuali orang-orang yang di tutup mata hatinya oleh Allah, seperti golongan orang-orang Atheis.

Mereka itu sekelompok golongan yang mengingkari keberadaan sang Pencipta (Allah swt), mereka berkata: semua yang ada ini tidak lain terlahir dari rahim-rahim dan bumi akan menelannya, tak ada yang membinasakan kita kecuali masa (zaman).

Golongan ini Menyadarkan kebinasaan pada zaman, karena itu mereka disebut golongan Dahriyyah (golongan Atheis) yang mempercayai teori evolusi dari menolak adanya Allah Maha Pencipta. Celakalah orang-orang Dahriyyah yang akan menerima siksa yang amat pedih.

Abu Hanifah (w. 767 M) bernama lengkap Nu‘man bin Tsabit, ulama fikih generasi paling awal yang merupakan pendiri Mazhab Hanafi. Beliau merupakan seorang tabiin, sebab pernah bertemu dengan sahabat Nabi Saw., Anas bin Malik dan beberapa peserta Perang Badar.

Abu Hanifah Lahir di Kufah pada abad I Hijriah dan meninggal di Baghdad pada abad II Hijriah, Abu Hanifah tidak hanya ahli di bidang fikih, tetapi juga ilmu tauhid (kalam/telogi).

Salah satu gurunya ialah Syekh Hammad bin Abu Sulayman, ulama fikih kenamaan asal Kufah. Kepadanya, Abu Hanifah nyantri selama 18 tahun. Usianya masih muda sekali, 22 tahun.

Ketika salah satu kerabat Syaikh Hammad di Basrah wafat, beliau merasa cukup mewakilkannya pada Abu Hanifah; jadi pengajar, mufti, dan pengarah dialog. Ketika mengemban tugas itulah, Abu Hanifah mendapati banyak pertanyaan datang kepadanya.

Syaikh Nawawi menceritakan satu di antara kisah tersebut dalam kitabnya, Fath al-Majid.

Ulama asal Banten yang juga masyhur di Haramain itu menceritakannya sebagai penguat dalil bagaimana membantah hujah anti-ketuhanan kaum ateis. Dan istimewanya, bantahan tersebut dilakukan oleh Abu Hanifah, yang ketika itu masih remaja. Padahal, ia baru benar-benar menggantikan gurunya kelak, ketika berusia 40 tahun.

Syekh Nawawi pernah bercerita terkait kisah seorang pemeluk ateis (dahriya’) di zaman Syaikh Hammad, gurunya Abu Hanifah. Ia telah berhasil membungkam ulama melalui satu pertanyaan; perihal keberadaan Allah Swt. yang tak memiliki tempat. Tetapi ia belum puas. Ia kembali menantang, untuk memastikan bahwa para ulama sekitar benar-benar bertekuk lutut tidak mampu menjawab sekelumit pertanyaannya. “Masih tersisakah seseorang di antara ulama kalian?” tanyanya menantang

Para menteri menjawab, “Iya. Hammad.” “Datanglah kalian padanya. Mintalah dia untuk menghadapku.” Sang menteri pun mendatangi Syaikh Hammad. Mereka meminta beliau untuk segera menghadap sang raja yang ateis itu. Tetapi Syaikh Hammad memahami duduk perkaranya, sehingga meminta waktu senggang semalam. Beliau memahami betul bahwa ulama lainnya telah keok di hadapan sang raja.

Pagi harinya, sebelum berangkat, ia menghadap Abu Hanifah, murid kesayangannya. Ketika itu usia Abu Hanifah masih muda sekali. “Kenapa Anda kelihatan putus asa?” tanya Abu Hanifah ketika mendapati gurunya murung, seakan menyimpan beban besar. “Bagaimana mungkin aku tidak berputus asa, sedangkan aku diminta menghadap raja ateis yang para ulama telah bungkam oleh pertanyaan-pertanyaannya. Selain itu, aku mimpi tidak enak semalam,” terang Syaikh Hammad. “Apa itu?” tanya Abu Hanifah penasaran “Aku melihat rumah yang luas dan penuh hiasan, yang di tertanam di dalamnya pohon-pohon berbuah. Lalu dari sudut rumah itu keluarlah babi, dan memakan buah, daun, dan dahannya, hingga tak tersisa apapun kecuali ujung bawah batangnya. Tak lama, dari batang itu muncullah singa, dan membunuh babi itu”, jelas Syeikh Hammad

” “Guruku,” kata Abu Hanifah, “Allah swt. telah mengajariku ilmu ta’bir mimpi. Mimpimu ini baik untuk kita, dan buruk untuk musuh-musuh kita. Maka jika engkau izinkan saya menafsirkannya, saya sungguh akan melakukannya.” ucap Abu Hanifah.

“Tafsirkanlah mimpi itu, hai Nu’man,” sahut Syekh Hammad tak sabar.

Abu Hanifah pun mulai mengartikan mimpi gurunya. “Rumah yang luas dan penuh hiasan adalah Islam. Pohon-pohon berbuah ialah para ulama. Ujung batang yang tersisa di situ adalah engkau. Babi adalah sang Raja Ateis, dan singa yang membunuhnya adalah saya. Maka berangkatlah engkau dengan membawa saya. Dengan begitu, berkat keistimewaan dan kemuliaanmu, saya memiliki kesempatan untuk berbicara dengan raja itu”, jelas Abu Hanifah

Mendengar penjelasan tabir mimpi dari Abu Hanifah, Syekh Hammad senang bukan main. Beliau pun mendatangi tempat perjanjiannya dengan para menteri. Mereka pun datang, dan para hadirin berkumpul bersama Syaikh Hammad.

Sementara itu, Abu Hanifah berada di bawahnya sambil mengangkat sandalnya dan sandal gurunya.
Sang Raja pun juga tiba dan langsung menuju singgasana. “Mana ulama yang mampu menjawab pertanyaanku?” tantangnya.

Suasana hening. Apalagi ulama lain, bahkan Syaikh Hammad sendiri pun juga belum menjawab.
“Apa-apaan ini. Bertanyalah. Akulah orang yang mampu akan menjawab pertanyaanmu,” Abu Hanifah memancing sang raja mengeluarkan pertanyaan yang sudah membungkam para ulama tersebut.

Beliau yakin akan bisa menjawab, meskipun dirinya masih teramat muda.

“Siapa engkau, hai anak muda? Kau bermaksud berbicara denganku? Bagaimana dengan para sesepuh yang berpangkat dan berbaju mewah itu. Bagaimana dengan para pembesar yang telah keok di depanku? Bagaimana mungkin engkau yang masih kecil dan hina ini mampu melakukannya?”
Sombong sang raja.

“Allah tidak meletakkan kemuliaan untuk para pembesar, atau yang berbaju mewah. Allah meletakknya untuk para ulama,” jawab Abu Hanifah.

“Jadi engkau mau menjawab pertanyaan-pertanyaanku?”, tegas raja.

Abu Hanifah mengangguk. Sedikit pun ia tak merasa gentar harus berdebat dengan raja. Di sisi lain ia sangat yakin dengan mimpi gurunya sebelum berangkat, bahwa ialah pemenangnya nanti.
Ia pun mulai terlibat perdebatan, tanya-jawab sengit dengan sang raja.

“Apakah Allah itu ada?” tanya sang raja
“Iya”, jawab Abu Hanifah “Di mana dia?” lanjut sang raja
“Dia tidak memiliki tempat berdiam”, tangkis abu Hanifah
“Bagaimana mungkin sesuatu yang ada tidak memiliki tempat? Kejar sang raja
” “Buktinya ada di badanmu sendiri”, tandas abu Hanifah
“Apa itu?” kejar sang raja
“Apakah badanmu memiliki ruh?”, kilah Abu Hanifah
” “Iya” jawab raja
“Di mana ruhmu? Apakah di kepala, apakah di perut, atau bahkan di kakimu? Kejar Abu Hanifah

Sang raja pun kebingungan. Berdiam. Ia tak bisa menjawab. Untuk kali pertama, ia harus bungkam di hadapan anak muda. Tetapi Abu Hanifah belum puas dengan dalilnya.

Beliau kemudian meminta segelas susu. “Apakah susu ini memiliki lemak?” tanya Abu Hanifah
“Iya,” jawab sang raja
“Di mana tempat lemaknya? Di atas atau di bawahnya?” lanjut
Abu Hanifah.

Lantas beliau menimpali, “Sebagaimana ruh tak dijumpai tempatnya, sebagaimana juga susu tak diketahui tempat lemaknya, Allah tidak memiliki tempat di alam semesta”, jelas Abu Hanifah.

“Lalu apa yang ada sebelum Allah dan sesudahnya?”, Tanya raja untuk kedua kalinya kepada Abu Hanifah

“Tidak ada sesuatu apapun di depan maupun di belakangnya”, jelas Abu Hanifah.

“Bagaima mungkin tergambar di pikiranku, sesuatu tak memiliki awal dan akhir?”, kejar raja lagi.

“Ini dalilnya juga ada di badanmu” tangkis abu Hanifah. “Apa itu?” kilah raja. “Apa yang ada sebelum ibu jari dan sesudah jari kelingkingmu?”, tanya abu Hanifah. “Tak ada apapun sebelum ibu jari dan setelah kelingkingku”, jawab raja

“Maka seperti itulah Allah. Tidak ada sesuatu di depan atau pun di belakangnya, sebelum maupun sesudahnya”, jawab Abu Hanifah.

“Masih ada satu pertanyaan lagi,” kata sang raja, setelah dua pertanyaan berhasil Abu Hanifah jawab.

“Akan saya jawab, insyaallah”, ucap Abu Hanifah.

“Apa pekerjaan Allah sekarang”, tanya raja

Mendengar pertanyaan terakhir itu, Abu Hanifah tidak langsung menjawab. Kemudian berkata, “Engkau kebalik. Seharusnya yang menjawab itu ada di atas singgasana, dan yang bertanya berada di bawahnya. Saya akan menjawab, seandainya kau bersedia turun”, ujar Abu Hanifah.

Sang raja turun dari singgasana mengiyakan, dan Abu Hanifah ganti menduduki singgasana sang raja.

Ketika beliau di atas mimbar, raja mengulang pertanyaan tadi.
“Ayo apa pekerjaan Allah sekarang?” kejar sang raja.

“Pekerjaan Allah sekarang ialah menjatuhkan kebatilan sepertimu, dari atas ke bawah. Dan Dia menaikkan orang yang benar (haqq) sepertiku dari bawah ke atas”, jawab Abu Hanifah.

Sang raja diam tak berkutik. Tiga pertanyaan yang diajukannya tak lagi membungkam lawan, justru ia takluk di hadapan anak muda, di bawah singgasananya sendiri.

Dengan demikian, mimpi Syaikh Hammad benar. Melalui keistimewaan nalarnya itu, kelak Abu Hanifah dikenal sebagai Imam Mazhab paling rasional ketimbang para imam sesudahnya; Malik, Syafi‘i, dan Ahmad bin Hanbal. Wallahu a’lam.

(Kisah disarikan dari kitab Fath al-Majid karya Syekh Nawawi al-Jawi, Banten.)

Artikel ini telah dibaca 70 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Thoriqot, Pilar Utama Pergerakan BABAD BANTEN

4 Desember 2025 - 23:04 WIB

Inkompentensi Pejabat Sangat Membahayakan Bagi Masa Depan Bangsa

4 Desember 2025 - 03:46 WIB

Belajar dari Pohon Bambu

4 Desember 2025 - 02:35 WIB

Pondok Pesantren Modern Daarul Muttaqien : Melahirkan Alumni Hebat

3 Desember 2025 - 06:27 WIB

FILSAFAT RASA: Menemukan Kembali Organ Pengetahuan Nusantara

3 Desember 2025 - 04:32 WIB

Untuk Apa Banyak-banyak Kawan

3 Desember 2025 - 03:51 WIB

Trending di Berita