Isyu Pendemo sudah mengerucut; Menerima Vs Menolak MBG
Tangerang, Kamis 18/06/2026 (babadbanten.com). Seperti yang sudah diduga sejak awal. Isyu demonstrasi mahasiswa mengerucut pada satu titik. Yaitu menolak vs menerima MBG. Sebab MBG merupakan pogram populis dari Presiden Prabowo dengan gelontoran dana APBN yang sangat besar luar biasa.
Bila di runut embrional aksi mahasiswa yang dimotori oleh Tiyo Ardianto Ketua BEM UGM tahun 2025 dipicu oleh narasi Tiyo yang sangat tajam dalam mengkritisi Program MBG. Tiyo berhasil mengartikulasikan kegelisahan, ketakutan, kekecewaan dan bau pengap korupsi di program MBG. Dan Tiyo juga berhasil membidik sasaran “kemarahan” rakyat kepada Presiden Prabowo.
Dengan dukungan medsos yang massif dan jejaring gerakan yang bekerja konsisten di jalan sunyi akhirnya narasi Tiyo mampu menembus batas akal sehat rakyat Indonesia. Dari diam mulai berani bersuara kemudian mulai mempertanyakan dan kemudian berani menggugat dan akhirnya menjadi aksi bersama yang massif.
“Tiyo” sangat diuntungkan. Karena Istana tidak memiliki kemampuan merespon dengan baik. Para “jubir” Istana sangat terlihat gagap dan terkesan jumawah. Alih-alih menjelaskan dengan argumentasi yang masuk akal malah yang dilakukan masuk wilayah tuduhan “etika dan Moral”. Tentu saja penjelasan “jubir” tidak mampu mematahkan narasi tajam dari Tiyo. Bahkan Tiyo dianggap sosok yang mewakili rakyat yang diam karena tidak berani untuk bersuara.
Disisi lain, Tiyo juga sangat mobile dalam mengunjungi simpul-simpul kawan pergerakan. Jeli membangun jejaring perlawanan rakyat. Kita bisa lihat Tiyo tampil di Pati bersama rakyat Pati. Mau berdiskusi lesehan dengan para pentolan BEM. Dan tetap rendah hati meskipun di undang di berbagai podcast orang-orang gede.
Dengan narasi yang tajam, terukur dan sistematis serta masuk akal maka tidak heran bila suara Tiyo kemudian menjelma menjadi gelombang aksi perlawanan yang serius. Hal ini memang lumrah. Bukan sesuatu yang luar biasa. Itulah hukum sosial pergerakan. Yaitu gagasan perlawanan yang berasal dari kegelisahan rakyat banyak maka akan mendapat dukungan rakyat. Dan Tiyo berhasil membidik MBG sebagai isyu utama perlawanannya dengan kekuatan narasinya.
Tapi karena MBG merupakan program populis sudah pasti memiliki pendukung yang besar. Sebab bagi yang telah terlibat di MBG dan mendapatkan manfaatnya tentu saja tidak akan tinggal diam. Pasti kemudian akan melahirkan perlawanan dan penolakan terhadap tuntutan penghentian Program MBG.
Bila sekarang isyu demonstrasi sudah mengerucut Menolak dan menerima MBG maka kita tunggu sikap Presiden Prabowo. Dan yang penting mampukah para “jubir” Istana mengkomunikasikan dengan tepat dan mengena di hati rakyat.
Jangan sampai kesalahan Komunikasi akan mempercepat lahirnya Tiyo Tiyo baru yang semakin tajam memberikan perlawanan pada kekuasaan Pemerintahan Presiden Prabowo dan Wapres Gibran. (101).
Editor : Raden Shoodrun Muda
Views: 13






