Kepemimpinan Pesantren harus bersinergi dan berkolaborasi dengan Kepemimpinan Pemerintahan
Oleh KH Tubagus Sehabudin Assa’idiy
Tangerang, Kamis 8/05/2025 (babadbanten.com). Dalam sejarah peradaban manusia kuno, lahirnya sebuah peradaban dan kemajuan suatu bangsa karena selalu adanya kerjasama dan kolaborasi yang bersinergi antara Penguasa, Pengusaha dan Kaum Agamawan.
Kita bisa membaca hal tersebut dalam falsafah Sunda yaitu Tritangtu Buana. Yaitu tiga komponen yang mengatur kehidupan masyarakat atau dunia.
Pertama ke-rama-an. Yaitu yang diyakini sebagai Tuhan Yang Maha Kuasa sang Pemilik Alam semesta.
Kedua ke-Prabu-an. Seorang Raja yang mengatur segala kehidupan masyarakat agar sesuai dengan ajaran Tuhan.
Ketiga Ke-resi-an. Seorang yang dipandang memiliki pemahaman yang mendalam terhadap ajaran Tuhan yang tertuang dalam buku besar semesta.
Secara Falsafah hidup, masyarakat kita memang sudah kuat tertanam pemahaman tentang pentingnya bersinergi dan berkolaborasi ketiga komponen penting tersebut agar kehidupan masyarakat kita bisa mencapai kehidupan yang gemah Ripah loh jinawi. Bahagia di dunia Bahagia di akherat.
Dalam konteks modern, kita harus melihat secara objektif memandang bahwa Kekuasaan tidak boleh berjalan sendirian. Sebab sangat berpotensi disalahgunakan untuk kepentingan segelintir orang atau kelompoknya saja. Dan mengabaikan kepentingan rakyat yang sangat besar.
Sejarah kekuasaan di Indonesia di era Orde Baru hal tersebut pernah terjadi. Isyu KKN yang menjadi spirit lahirnya gerakan reformasi yang dimotori oleh para masyarakat dan rakyat karena fakta nyata penyalahgunaan kekuasaan.
Oleh karena itu menurut hemat penulis, Kekuasaan memang harus dikawal dan terus didampingi oleh kaum resi dalam konteks sekarang mungkin namanya kaum Agamawan.
Kaum Pesantren yang identik dengan kaum Agamawan tersebut harus siap untuk menjalankan tugas suci dengan penuh dedikasi, idealis dan berintegritas dalam mengawal kekuasaan ini agar sesuai dengan semangat Pancasila sebagaimana yang sudah termaktub dalam pembukaan UUD Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) Tahun 1945.
Namun agar semuanya berjalan sesuai dengan tupoksinya maka diperlukan sikap yang andap asor sehingga terwujud sinergitas dan kolaborasi yang saling asih asuh asah dan mewangian sesama anak Bangsa. Amin.
Penulis adalah Pengasuh Pondok Pesantren Daarussa’adah Kp Doyong Alam Jaya Jati Uwung Kota Tangerang Banten
Editor : Raden Sadrun Muda
Views: 0







