SUDAH WAKTUNYA AMERIKA SERIKAT TERBUKA SOAL ASET NUSANTARA
Oleh Dr Safari Ans
Jakarta, Jum’at 07/03/2025 (babadbanten.com). Pemerintah Amerika Serikat bersikap atas keberadaan aset-aset besar yang selama ini mendukung perekonomian negara Paman Sam selama satu abad silam. Termasuk aset Nusantara yang telah diinvestasikan Kerajaan Galuh Pajajaran yang merupakan warisan dari Raja Agung Prabu Siliwangi.
Jumlah emas yang telah diinvestasi itu dilakukan oleh J.P Morgan yang jumlahnya mencapai 140.000.000 kg (seratus empat puluh juta kilo gram) di Federal Reserve Bank (Bank Sentral Amerika Serikat) yang kemudian ditata oleh Soekarno pada era Pemerintahan John F. Kennedy (JFK). Penempatan emas ini, oleh Soekarno diperkuat dengan Washington Agreement dan Perjanjian Tampak Siring (Bali).
Bahkan pihak JP Morgan telah melakukan verifikasi dokumen original yang dipegang oleh keturunan Kerajaan Pakuan Galuh Pajajaran tersebu sekitar 10 tahun silam di Bogor. Dokumen tersebut dinyatakan asli dan dapat diproses lebih lanjut. Beberapa konsultan kelas kakap mencoba menjembatani antara pihak keturunan Prabu Siliwangi dengan pihak FED, tetapi gagal. Tetapi diakui kebenaran dokumen yang disimpan oleh keturunan raja agung tersebut.
Belum lagi, pengakuan Amerika Serikat atas status pampasan perang dunia kedua, berupa 57.000 ton lebih emas yang tertuangkan dalam Green Hilton Memorial Agreement ysng diteken JFK dengan Soekarno 14 November 1963. Dimana Amerika Serikat mengakui emas itu milik Indonesia, tetapi tidak perlu mengembalikannya, tetapi cukup diakui saja dengan pembayaran royalti 2,5% per tahun. Royalti itu seharusnya jatuh tempo 14 November 1965. Tapi 30 September 1965 atau satu setangah bulan sebelum jatuh tempo, Soekarno dikudeta melalui Gerakan 30 September 1965 menggunakan PKI sebagai kambing hitam. Hingga kini royalti itu belum pernah dibayarkan.
Minggu ini Presiden Trump bertemu dengan kongres Amerika Serikat. Menurut sumber resmi di Bank Dunia, hasil pertemuan tersebut meliputi informasi terbaru mengenai pembayaran “Aset Historis”.
Trump bertemu dengan Kongres pada hari Selasa, 4 Maret 2025, dan mengumumkan bahwa Amerika Serikat telah kembali ke standar emas. Pembayaran yang dimulai pada hari Selasa akan didukung oleh emas. Oleh karena itu, penting untuk dipahami bahwa hingga minggu lalu, tidak ada Sovereign yang dapat mulai memproses berkas dan membayar klaim aset-aset tersebut.
Bahkan hingga hari ini, semua pihak masih menunggu pengumuman resmi USTN (United State Teasury Note) baru, yang seharusnya berlangsung pada 4 Maret 2025.
Disinggung juga tentang penukaran akan dimulai hanya setelah USTN diumumkan secara resmi oleh Pemeringah AS.
Disebutkan, Sovereign akan dimulai hanya setelah USTN diumumkan secara resmi. Bahkan setelah dimulai, semua Pemegang Aset harus memahami bahwa ada proses ketat yang harus diikuti sebagai berikut. Pertama, pembayaran terlebih dahulu Blue Zimbabwes 100 Triliun, Aset Emas, dan obligasi Jerman, lalu Aset Naga Kuning. Kedua, pembayaran dari berkas terlama ke berkas terbaru dalam antrean.
Disebutkan ada kabar baiknya adalah bahwa setelah perintah diberikan, semuanya akan bergerak sangat cepat (terutama untuk Penjualan Cepat)
Secara umum, Bank Dunia tahu bahwa ini adalah pasar tertentu di mana hanya ada dua pembeli utama yang memungkinkan untuk jenis aset ini, yakni Pembeli Bursa atau Sovereign. Sepengatahuan Bank Dunia, bahwa aturan Redemption atau Sovereign terkadang tampak aneh, tetapi sepertinya tidak punya pilihan, karena selain pembeli ini, tidak ada yang akan akan membeli aset ini di luar Redemption atau Sovereign.
Memang ada ribuan penjual telah menunggu bertahun-tahun untuk melihat tibanya pembayaran aset-aset tersebut. Pada saat yang sama, harap dipahami bahwa di luar saluran Redemption dan Sovereign resmi, mustahil untuk menjual kembali aset historis, karena hanya pembeli terakreditasi yang dapat membeli aset ini dan hanya pembeli Redemption dan Sovereign. Bank Dunia juga menerima informasi tentang pergerakan berkas ini, Bank Dunia akan menginformasikannya sebagaimana mestinya.
Diumumkan juga bahwa Redemption akan dimulai pada 9 Maret dengan pembayaran pertama dijadwalkan pada 19 Maret.
Semua pihak dihimbau oleh Bank Dunia untuk memperhatikan apa yang terjadi besok di AS dan apa yang dikatakan Presiden Donald Trump dalam waktu dekat ini.
Bank Dunia sebenarnya menyadarkan bahwa setiap sinyal menunjukkan hanya aset digital yang memiliki masa depan untuk meminimalkan inflasi, uang tunai di seluruh dunia, dan menstabilkan ekonomi dunia.
Bank Dunia juga mencatat bahwa kini dunia global memasuki Dunia Keuangan Baru adalah masa depan dan tidak ada jalan kembali. Demikian informasi yang didapat dari sumber Bank Dunia. Salam Safari Ans.
Penulis adalah Peneliti Senior Aset Nusantara
Editor : Soleh Muda
















