Politik Kurs Dollar yang membuat Soeharto Tumbang, Apakah di Era Prabowo masih bisa dimainkan?
Tangerang, Rabu 03/06/2026 (babadbanten.com). Kekuasan Presiden Soeharto selama 32 tahun berkuasa masih meninggalkan jejak yang jernih untuk kita pelajari dengan seksama. Soeharto menjadi penguasa terlama di Nusantara yang sekarang bernama Indonesia. Tapi mengapa bisa tumbang. Padahal Soeharto masih mengggenggam kekuasaan di tangannya.
Hal inilah yang menarik untuk kita pelajari. Sebagai generasi bangsa yang sadar, kita harus mampu belajar dan mengambil hikmah dari sebuah peristiwa bangsa Kita sendiri. Menurut Tubagus Soleh Ketua Putera Nusantara Indonesia (PNI) minimal ada dua faktor yang membuat Soeharto tumbang. Pertama adanya perlawanan dari luar kekuasaannya. Kedua dari Pihak Pribadi Soeharto sendiri.
Lebih lanjut Tubagus menjelaskan. Yang dimaksud adanya perlawanan dari luar kekuasaanya adalah adanya demonstrasi mahasiswa yang diawali kurs dollar naik. Kurs dollar ini yang kemudian dimainkan dengan opini yang matang. Bahwa dengan kurs dollar naik maka kebutuhan pokok rakyat pun akan naik. Kehidupan rakyat semakin susah. Opini Kurs dollar menjadi opini politik yang liar dan secara meyakinkan membentuk persepsi publik. Kurs Dollar naik sama dengan hidup rakyat semakin susah. Inilah awal mula Tumbangnya Soeharto. Yaitu Politik Kurs Dollar.
Kedua, lanjut Tubagus, ya memang Soeharto sudah bosen menjadi Presiden. Dan mau berhenti. Sehingga proses turunnya Soeharto tidak rumit. Cukup beliau menyatakan berhenti dan secara konstitusi dilanjutkan oleh BJ Habibie. Selesai dan tuntas.
Menurut Tubagus Soleh, Politik Kurs Dollar akan selalu dimainkan. Tujuannya agar rakyat melawan Presidennya sendiri. Bikin demonstrasi. Bikin apa saja yang bisa bikin situasi tidak kondusif. Mereka akan berhasil memainkan politik Kurs Dollar untuk menumbangkan Pemerintah yang sah selama rakyat tidak sadar bahwa ini cuma opini politik kurs dollar. Tandas Tubagus Soleh. (101).
Editor : Raden Shodrun Muda
Views: 8







