Pertarungan “Walisongo” vs “9 Naga” di zaman Metaverse
Bagian ketujuh
Tangerang,Kamis-20/02/2025 babadbanten.com. Tidak dapat dipungkiri, “9 Naga” saat ini memegang kunci penting bagi ekonomi bangsa Indonesia. Seorang Boy Thohir pernah mengatakan sepertiga ekonomi Indonesia mereka kuasai. Hal tersebut Boy ungkapkan pada deklarasi relawan Prabowo Gibran beberapa bulan yang lalu ketika masa kampanye Pilpres 2024.
Sebagai Bangsa kita patut marah terhadap kesombongan “boy” karena konglomerasi yang mereka bangun bukan dari hasil kerja keras namun dari fasilitas kebijakan rezim penguasa. Namun kita tidak boleh reaktif. Sebab hal tersebut tidak memberikan jalan keluar bagi kita sebagai warga mayoritas dalam makna bangsa.
Konglomerasi 9 Naga terbangun oleh oligarki. Demokrasi terpimpin ala Orde Baru selama 32 tahun berkuasa ditambah 30 tahun sedang berjalan rezim reformasi hanya melahirkan “yang Kaya Makin Kaya, yang miskin makin miskin”. Dampak jangka pendek, menengah dan panjang sudah mulai terasa. Generasi ke 4 ke 5 bahkan sampai keturunan ke 7 dari para Naga 9 “dipercaya” masih memegang kendali ekonomi bangsa kita.
Buat kita mayoritas Bangsa yang merasakan ketidakadilan kebijakan ekonomi rezim harus berani “melawan”. Harus berani berpikir kritis. Dan harus berani melakukan terobosan-terobosan pemikiran yang solutif buat perbaikan bangsa secara keseluruhan.
Rakyat harus dibangkitkan keberaniannya, rakyat harus dibangunkan kesadarannya dan rakyat harus dipicu pergerakannya. Sebagai bangsa kita tidak bisa menitipkan idealisme kemerdekaan bangsa pada tanggal 17 Agustus 1945 kepada rezim apalagi kepada para politisi. Sebab mereka tidak memiliki “ideologi perjuangan rakyat Indonesia” sebagaimana yang termaktub dalam pembukaan UUD 1945.
Fakta sosial,ekonomi, dan politik yang saat ini menimpah bangsa kita sudah merupakan bukti sejarah yang tidak perlu kita perdebatkan. Kita cukup tahu saja, bahwa pada akhirnya “idealisme dan ideologi kemerdekaan bangsa Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945 rakyat sendiri yang harus memperjuangkannya.
Dari Monarki menjadi Republik ternyata tidak membuat hidup rakyat nusantara sejahtera. Keadilan Sosial bagi seluruh Bangsa Indonesia hanyalah cuma menjadi omon-omon doang.
Namun yang membuat kita lebih sedih lagi, saat ini Republik telah berubah wajah menjadi oligarki. Dimana rakyat hanyalah menjadi objek penderita. Penguasa birokrasi konglomerat bersatu menjadi pemeras rakyat. Sehingga kemiskinan dan penderitaan rakyat tidak terelekan lagi.(bersambung/red/Ts)
editor : Soleh Muda
Views: 0







