Beranda / Trending / Pemberontakan Trunojoyo

Pemberontakan Trunojoyo

Konflik dan Pemberontakan

Pada tahun 1670, terjadi konflik antara Sultan Amangkurat I dan putra mahkotanya, Adipati Anom. Dalam diam, Adipati Anom meminta dukungan Raden Kajoran. Pada kesempatan ini, Trunojoyo diperkenalkan dan dilibatkan dalam pemberontakan. Sebagai imbalan, Adipati Anom menjanjikan Madura Barat kepada Trunojoyo.

Berbekal perjanjian ini, Trunojoyo menguasai Madura Barat melalui diplomasi. Ia meyakinkan Tumenggung Yudonegoro bahwa dirinya adalah pewaris sah kekuasaan Madura Barat. Setelah menguasai Madura Barat, Trunojoyo membentuk laskar dari rakyat Madura yang tidak menyukai Mataram.

Aliansi dan Kekuatan Militer

Untuk memperkuat pasukan, Trunojoyo bekerja sama dengan Karaeng Galesong, pemimpin pelarian dari Makassar. Dukungan juga datang dari Panembahan Giri, ulama Surabaya yang tidak menyukai Amangkurat I. Dengan pasukan besar, Trunojoyo mulai menyerang wilayah Mataram pada 1676.

Serangan pertama di Gegodog, Oktober 1676, menewaskan sejumlah bangsawan Mataram. Wilayah Lasem, Rembang, dan Jepara kemudian dikuasai. Pada Desember 1676, Trunojoyo merebut Demak dan Semarang, diikuti Pekalongan dan Tegal. Pada April 1677, ia mengirim pesan kepada VOC bahwa separuh wilayah Mataram telah ditaklukkan. Target utamanya adalah ibu kota di Plered.

Kejatuhan Plered dan Akhir Trunojoyo

Pasukan Trunojoyo menyerbu Plered pada Oktober 1677, memaksa Amangkurat I melarikan diri. Keraton dijarah, dan putri istana diculik. Trunojoyo bahkan menikahi putri Amangkurat I. Merasa berhasil, Trunojoyo mendirikan pusat kekuasaan di Kediri dan mengangkat dirinya sebagai penguasa Mataram.

Namun, Adipati Anom yang dinobatkan menjadi Amangkurat II meminta bantuan VOC untuk menumpas Trunojoyo. Pada April 1677, VOC menyerang Surabaya, lalu Kediri. Pada Desember 1679, Kapitan Jonker berhasil mengepung Trunojoyo di lereng Gunung Kelud. Trunojoyo ditangkap hidup-hidup dan diserahkan kepada Amangkurat II.

Trunojoyo menerima tawaran pengampunan, namun ia ditikam hingga tewas oleh Amangkurat II. Peristiwa ini menandai akhir pemberontakan yang mengguncang Mataram.

sumber : SINDO News dan Grup WA DEKKAN

 

Views: 0

Halaman: 1 2

Tag:

Tinggalkan Balasan