Hilangnya Tradisi Kholwat di Banten
Catatan Sufi Syeikh Tubagus Fahman Arafat, Rois JATMAN Wustho Banten
Pentingnya Kholwat dalam Tarekat
Kholwat merupakan salah satu kunci keberhasilan bagi seorang murid dalam perjalanan spiritualnya. Tujuan utama kholwat adalah mencapai mahabbah (cinta), keridhaan, dan ma’rifat kepada Allah. Kunci utama keberhasilan kholwat adalah melalui robithoh, yaitu keterhubungan spiritual dengan guru. Robithoh memberikan bimbingan yang mendalam, yang tidak dapat digantikan hanya dengan menyepi sendiri di tempat sunyi, seperti hutan.
Seorang murid biasanya diperintahkan untuk melakukan kholwat setelah menyelesaikan tahapan awal dalam tarekat. Tahapan tersebut meliputi 80 pertemuan dengan guru, mengkhatamkan tujuh lathifah, dan memahami dua puluh muroqobah. Pada saat itu, guru akan memerintahkan murid untuk menjalani kholwat secara sempurna. Dalam kholwat ini, murid harus menjaga lisannya dari perkataan yang tidak bermanfaat, serta mengendalikan nafsu dan syahwat.
Panduan Melakukan Kholwat
Kholwat harus dilakukan dengan izin dan bimbingan guru. Tanpa panduan ini, seorang murid tidak akan mencapai apa yang ia cari. Guru dapat memerintahkan kholwat di berbagai tempat, seperti rumah, tempat guru, atau lokasi yang jauh dari keramaian. Tujuannya adalah menciptakan suasana tenang agar murid dapat fokus pada ibadah dan introspeksi.
Para ulama tarekat sepakat bahwa di zaman modern ini, di mana banyak tantangan spiritual muncul, kholwat menjadi lebih dianjurkan. Tradisi ini mirip dengan i’tikaf dalam syariat, tetapi dalam tarekat, keterlibatan guru sangat penting untuk memberikan arahan dan menjaga fokus murid.
Kholwat dalam Sejarah Islam
Kholwat juga memiliki akar sejarah yang kuat dalam Islam. Nabi Muhammad SAW menerima wahyu pertama di Gua Hira pada malam 17 Ramadan melalui Malaikat Jibril. Wahyu ini dimulai dengan perintah “Iqra bismirobbikalladzii kholaq”. Pengalaman kholwat Nabi menjadi teladan bagi para murid tarekat untuk mendekatkan diri kepada Allah dengan cara yang terarah.
Peran Guru dalam Tarekat
Guru memiliki peran sentral dalam tarekat. Tugas utama guru adalah memastikan muridnya berhasil dalam perjalanan spiritualnya. Guru sejati tidak mendidik dengan nafsu, melainkan dengan ahwal rabbani (keadaan yang ilahi). Guru ini memiliki silsilah yang bersambung hingga Rasulullah SAW melalui Malaikat Jibril.
Syeikh Asnawi Caringin, dalam kitabnya Assalaasil Alfadhiyah, menjelaskan bahwa guru adalah perantara yang hakikatnya berasal dari Allah. Oleh karena itu, murid tidak boleh meninggalkan guru hingga ia benar-benar mencapai tujuan spiritualnya. Dalam tarekat, murid harus mengalami fana kepada guru terlebih dahulu sebelum mencapai fana kepada Allah Ta’ala.
Pentingnya Melestarikan Tradisi Kholwat
Di zaman modern, tradisi kholwat mulai memudar, terutama di Banten. Padahal, kholwat memberikan banyak manfaat bagi murid, seperti ketenangan hati, peningkatan spiritual, dan kedekatan dengan Allah. Dengan menjaga tradisi ini, generasi penerus dapat tetap merasakan keutamaan yang diajarkan oleh para ulama dan guru tarekat.
Penutup
Kholwat bukan sekadar ibadah, tetapi juga metode mendalam untuk mencapai kedekatan dengan Allah. Dengan bimbingan guru yang tepat, tradisi ini dapat memberikan manfaat besar bagi para murid. Oleh karena itu, penting untuk terus melestarikan kholwat agar nilai-nilainya tetap hidup di tengah masyarakat.
Wallahu a’lam.
Views: 0







