Beranda / Trending / Pegang Erat Tangan Rakyat, Kegaduhan Sudah Terlampau Jauh

Pegang Erat Tangan Rakyat, Kegaduhan Sudah Terlampau Jauh

Pegang Erat Tangan Rakyat, Kegaduhan Sudah Terlampau Jauh

Oleh: Tubagus Saptani

Tangrang, selasa 02/09/2025 (babadbanten.com). Ada waktu dimana kita sebagai pemimpin harus harus berani mengambil jeda untuk berefleksi. Kita sering kali merasa mampu, superior, kuat, tak tertandingi, merasa mampu menghadapi gejolak, lalu terus melangkah tanpa menghitung matang konsekuensinya.

Namun, langkah yang terlalu jauh tanpa henti dan mengabaikan perasaan rakyat juga dapat membuat kita kehilangan arah.

Dalam kekisruhan yang sudah gaduh ini, ada pesan alam yang harus di baca dengan cermat, dengan kepala dingin, dengan hati yang bersih.

Sebab ada titik di mana kita perlu berhenti sejenak, menarik napas, melihat dengan seksama agar bisa menata kembali hubungan kita sebagai bangsa. Siapa yang pemerintah, siapa yang rakyat dan posisi negara dimana. Harus jelas. Agar tidak lagi tumpang tindih.

Ambillah napas dengan tenang. Tataplah rakyat dengan penuh cinta kasih, dengan penuh kasih sayang. Sebab disanalah akan muncul hormonisasi kita sebagai satu kesatuan sebagai Bangsa.

Sejarah mencatat, tidak ada kebaikan sedikit dalam kearogan kekuasaan. Sekuat-kuatnya kekuasaan di genggam dia pasti akan terlepas juga.

Segagah-gagahnya seragam yang dipakai pasti akan pensiun juga. Jangan sampai nanti menyesal di hari tua. Ketika menjadi pejabat sering menyakiti rakyat.

Kegaduhan yang sekarang berubah menjadi huru hara berawal dari sebuah respon yang arogan. Kita melihat dari peristiwa Pati, joget DPR dan ucapan yang kurang ajar dari Anggota DPR dalam memberi respon terhadap aspirasi rakyat.

Sesimple itu sebenarnya masalah kegaduhan ini. Namun karena kearogan semuanya menjadi hancur. Jelas bangsa ini dirugikan.

Siapa yang patut disalahkan? Rakyat tidaklah. Pejabat pastinya.

Rakyat memiliki ekspektasi yang tinggi terhadap pemimpinnya dan wakilnya di DPR Agar bisa berbuat sesuatu yang bermanfaat buat rakyat bangsa dan negara.

Namun ketika ekspektasi itu tidak sesuai dengan kenyataan sudah sangat wajar reaksinya pun sangat keras. Ya, wajar saja rakyat menuntut perbaikan hidup. Wajar saja rakyat menuntut wakilnya bekerja untuk Bangsa dan negara.

Namun, lagi-lagi respon yang terima rakyat diluar dugaan dan akal sehat. Akibatnya, wajar saja reaksi rakyatpun meledak dan nyaris tidak terkendali.

Lucunya, kita selalu beralibi ada aktor di balik kerusuhan. Pejabat kita begitu faseh menuduh ada kambing hitam dibalik semua kejadian huru hara ini.

Namun begitu abai dengan fakta sosial bahwa rakyat butuh penghidupan yang layak. Ketika lapar ada lapangan kerja buat menghidupi dirinya dan keluarganya. Ketika lelah seharian bekerja ada tempat untuk berteduh dan beristirahat. Sesimple itu keinginan rakyat kita.

Jadi, yang siapapun pihak harus sama-sama merendah dan bisa menahan diri. Tahu diri dan tahu batasan dirinya. Agar tidak terjebak pada megalomania imajinasinya sendiri.

Pemerintah terutama aparat dilapangan jangan merasa sok kuat, sok kuasa, sok punya duit. Percayalah semua itu akan hangus dengan sekejap bila rakyat sudah marah.

Ingat catatan sejarah kita, reformasi misalnya. Siapa yang sanggup menahan gelombang reformasi? Sekuat militer saja tidak berkutik.

Apalagi di zaman era teknologi informasi yang sangat bebas. Hanya tinggal pencet tombol semua informasi bisa terbuka. Siapa yang kuat menghadapi serangan yang langsung menusuk dada tanpa peluru?

Buat rakyat juga, harus mampu menahan diri dari tindakan yang merusak miliki kita sendiri. Kemarahan tidak perlu harus dilampiaskan dengan merusak milik rakyat sendiri. Toh yang bakal rugi kita sendiri.b

Karena pasti untuk memperbaiki fasilitas umum yang dirusak menggunakan anggaran negara. Dan itu artinya kita juga yang bayar.

Oleh karena itu kedua belah pihak harus mampu menahan diri dan sama-sama merendah. Mari kita duduk bersama memusyawarahkan apa yang menjadi masalah bangsa. Bukankah bangsa kita punya tradisi musyawarah, gotong royong dan tradisi ngopi di warung kopi sambil berdiskusi. Mengapa hal yang biasa kita lakukan tidak digunakan?
Bangsa ini jangan sampai mengulangi jalan Reformasi dalam mendobrak jalan buntu demokrasi, membuka jalan kebebasan yang semakin liar, lebih luas bahkan sangat lebar. Karena biayanya sangat besar dan anggaran perawatannya pun sangat besar.

Bisa-bisa bangsa ini tidak akan mampu lagi berjalan bila hal itu terjadi di era metaverse ini.

Gelombang protes rakyat yang terlihat begitu terang benderang jangan dipandang enteng. Gagal mengendalikan tunggulah bangsa ini akan tenggelam.

Sebelum itu terjadi, peganglah tangan rakyat erat-erat. Jangan sampai anda ditinggalkan rakyat.

Temui mereka wahai para pemimpin mulai dari Presiden hinggi tingkat yang paling bawah. Mulai dari Jenderal bintang empat hingga prajurit paling bawah, karena mereka merindukanmu.

Mereka tidak hanya merindukan wajahmu di layar televisi atau foto di baliho, mereka merindukan kehadiranmu di tengah keresahan mereka. Seperti masa pemilu dulu. Begitu akrab dan terasa bersaudara.

Begitulah seharusnya pemimpin negara memperlakukan rakyatnya. Aspirasi itu bahasa cinta rakyat yang harus dipahami pemimpin. Rakyat dan pemimpin bangsa hakekatnya adalah seperti jiwa dan raga yang tidak terpisah. Bila salah satunya sakit maka terasa sakitnya seluruh badan. Panjang Umur Perjoeangan…!!!

Editor : TS101

Views: 49

Tag:

Tinggalkan Balasan