Beranda / Trending / Jangan Amnesia Sejarah: Waspadai Kisruh Politik Bangsa Siklus 30 Tahun-an

Jangan Amnesia Sejarah: Waspadai Kisruh Politik Bangsa Siklus 30 Tahun-an

Sekolah Filsafat Tubagus

Jangan Amnesia Sejarah: Waspadai Kisruh Politik Bangsa Siklus 30 Tahun-an

Tangrang, 02/09/2025 (babadbanten.com). Kisruh Politik Bangsa Siklus 30 tahunan yang selalu mendera bangsa Indonesia harus menjadi perhatian semua anak bangsa.

Penyebab utamanya selalu berkaitan dengan Politik dan Ekonomi. Kemudian dipanas-panasin oleh Isyu dan asumsi.

Kisruh politik pertama tahun 1966 di zaman Presiden Soekarno berujung pergantian Kepemimpinan Politik. Itu pun berjalan tidak mulus karena tidak sesuai dengan mekanisme Musyawarah Mufakat demokrasi Pancasila yang bangsa ini sepakati bersama.

Kisruh politik kedua tahun 1998 yang meninggalkan luka multidimensi termasuk pergantian Presiden yang tidak mulus juga. Hingga hari ini untuk menyembuhkan luka bangsa akibat kisruh politik 98 masih perlu waktu yang lama.

Dan yang terbaru Kisruh Politik ketiga pada tahun 2001 dimana berujung Presiden Gus Dur diturunkan tahtanya  sebagai Presiden. Hingga sekarang luka politik tersebut masih belum sembuh.

Semua kisruh politik itu, bermula dari masalah atau isyu yang berbeda. Tapi selalu berujung pada pemakzulan politik kekuasaan Presiden.

Siklus Kisruh Politik dengan eskalasi tinggi selalu terjadi tiap 30 tahun-an. Kita harus cermati dan waspadai dengan seksama. Agar kejadian yang mendera bangsa ini tidak terulang kembali. Ongkos sosialnya sangat mahal untuk sembuh seperti sediakala.

Proses demokrasi yang sudah berjalan bagus mestinya harus kita jaga, kita rawat dan kita tingkatkan kualitasnya.

Bukankah bangsa kita sudah membuktikan mampu melakukan proses demokrasi pergantian Presiden dengan mulus? Mengapa masih belum yakin dengan potensi bangsa kita sendiri. Setiap tragedi politik ongkosnya sangat mahal. Lebih baik kita gunakan duitnya dan anggaran negaranya buat pembangunan berkelanjutan. Agar anak cucu kita bisa menikmati kemerdekaan yang diperjuangkan oleh leluhurnya.

Dalam catatan kisruh politik Bangsa kita. Selalu diawali dengan Isyu sumir. Tidak jelas.

Di zaman Presiden Soekarno rakyat disuguhi Isyu Dewan Jenderal yang akan mengkudeta.

Di zaman Presiden Soeharto, rakyat disuguhi isyu Soeharto sudah tunduk pada Camdesus IMF. Lalu dollar naik gila-gilaan. Tapi Isyu yang diusung berbeda dengan Isyu pokok. Yaitu masalah rakyat hidup susah.

Di zaman Presiden Gus Dur lebih unik lagi. Isyunya Bulog Gate. Rakyat bergerak dan akhirnya Gus Dur pun turun dari singgasana Istana. Tapi hingga kini tidak terbukti.

Di zaman Jokowi hampir saja. Bila dipaksakan isyu penundaan Pemilu yang sempat memanas. Seandainya Isyu itu tidak dicegah hal itu bisa saja merupakan awal dari timbulnya potensi keruwetan politik bangsa dalam jangka panjang. Dan ini merupakan catatan buruk bagi generasi bangsa kita.

Sikap tidak konsisten dan tidak berpegang teguh pada kesepakatan bangsa dalam menjalankan proses demokrasi pertanda berbahaya bagi kelanjutan demokrasi yang sehat dan akan sangat rentan munculnya sikap otorianisme dari pemegang kekuasaan.

Di zaman Presiden Prabowo, isyunya sesungguhnya tidak menarik. Tapi karena respon dari Pejabat terkait yang tidak peka terhadap napas derita rakyat maka menjadi pemicu huru hara dimana-dimana.

Untungnya Presiden Prabowo mengambil langkah cepat dan strategis. Perlahan pasti kemarahan rakyat sudah tidak di ubun-ubun lagi.

Meskipun demikian, Presiden Prabowo harus kerja lebih keras lagi agar rakyat percaya bahwa Presiden memang sungguh-sungguh bekerja sebagai Presiden Republik Indonesia yang dipercaya memegang mandat rakyat sebagai Presiden.

Bila kita menyimak dengan seksama sejarah kisruh politik Bangsa, kita tetap harus waspada, kita harus belajar dari sejarah politik bangsa kita. Terutama siklus kisruh politik 30 tahun-an.

Bila siklus kisruh politik 30 tahunan ini terjadi zaman sekarang di era metavers. Kemungkinan besar Bangsa kita tidak hanya akan selalu memulai dari nol lagi. Namun dampaknya akan lebih dari itu. Bangsa kita akan kesulitan berjalan norma kembali. Dan itu akan membuat bangsa kita capek dan tertinggal jauh dengan bangsa-bangsa lain di dunia. Selanjutnya kita tidak tahu apa yang bakal terjadi dengan bangsa kita.(101).

Editor : TS 101 babadbanten.com

Views: 29

Tag:

Tinggalkan Balasan