Menu

Mode Gelap
Thoriqot, Pilar Utama Pergerakan BABAD BANTEN Inkompentensi Pejabat Sangat Membahayakan Bagi Masa Depan Bangsa Belajar dari Pohon Bambu Pondok Pesantren Modern Daarul Muttaqien : Melahirkan Alumni Hebat FILSAFAT RASA: Menemukan Kembali Organ Pengetahuan Nusantara

Berita · 12 Jan 2025 01:36 WIB ·

Nandur Waluh Nandur Samangka, Masang Bubung Masang Maring


 Nandur Waluh Nandur Samangka, Masang Bubung Masang Maring Perbesar

Makna Tarekat dalam Kehidupan Spiritual

Banten (babadbanten.com)

Seorang guru sufi yang telah wafat menyampaikan pesan yang mendalam kepada muridnya:
“Mad, nandur waluh nandur samangka, masang bubu masang waring.”

Pesan ini mengandung makna yang dalam tentang tarekat dan hubungan manusia dengan Allah Ta’ala. Menurut Syeikh Tubagus Fahman Arafat Rois JATMAN Wustho Banten, perkataan tersebut menggambarkan betapa pentingnya menanam kebaikan dan menjaga keikhlasan dalam setiap langkah spiritual.

Tarekat: Menanam Kebaikan untuk Menuai Manfaat
Proses Spiritualitas yang Menghasilkan Buah Manis

Tarekat diibaratkan seperti menanam biji yang akan tumbuh menjadi buah yang manis dan harum. Dalam hidup ini, siapa yang menanam kebaikan akan menuai hasil yang baik pula. Tarekat mengajarkan bahwa setiap amal yang kita lakukan dengan niat ikhlas akan menghasilkan buah yang membawa manfaat. Tanpa memulai dengan menanam, kita tidak akan pernah bisa menikmati hasilnya.

Tarekat: Sebagai Alat untuk Menangkap Kebaikan
Membuka Pintu Rohmat Allah Ta’ala

Selain itu, tarekat juga diibaratkan seperti memasang bubu, tempat segala kebaikan bisa masuk dan berkembang. Segala sesuatu yang datang dalam hidup kita, baik itu kebaikan maupun keburukan, sebenarnya merupakan bagian dari rahmat Allah Ta’ala. Kita harus selalu terbuka terhadap segala hikmah yang terkandung dalam setiap peristiwa. Bahkan, dalam keburukan pun ada pelajaran berharga yang akan membawa kita lebih dekat kepada-Nya.

Tarekat: Menjaga Kebaikan dengan Waring
Melindungi Diri dari Gangguan Hawa Nafsu

Lebih lanjut, tarekat dapat diibaratkan juga seperti memasang waring yang melindungi kebaikan-kebaikan tersebut. Waring menjaga agar kebaikan yang kita miliki tidak rusak oleh hawa nafsu kita sendiri. Sebagai umat yang selalu berusaha mendekatkan diri pada Allah Ta’ala, kita perlu menjaga hati dan pikiran agar tetap murni dari godaan dunia yang dapat menghalangi perjalanan spiritual kita. Wallahu’alam.

Artikel ini telah dibaca 31 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Thoriqot, Pilar Utama Pergerakan BABAD BANTEN

4 Desember 2025 - 23:04 WIB

Inkompentensi Pejabat Sangat Membahayakan Bagi Masa Depan Bangsa

4 Desember 2025 - 03:46 WIB

Belajar dari Pohon Bambu

4 Desember 2025 - 02:35 WIB

Pondok Pesantren Modern Daarul Muttaqien : Melahirkan Alumni Hebat

3 Desember 2025 - 06:27 WIB

FILSAFAT RASA: Menemukan Kembali Organ Pengetahuan Nusantara

3 Desember 2025 - 04:32 WIB

Untuk Apa Banyak-banyak Kawan

3 Desember 2025 - 03:51 WIB

Trending di Berita