Beranda / Trending / Koreksi Kekeliruan Pemahaman Isra Mi’raj

Koreksi Kekeliruan Pemahaman Isra Mi’raj

Tangerang (babadbanten.com)


Isra dan Mi’raj: Dua Dimensi atau Satu?

Sebagian besar umat Islam memahami Isra dan Mi’raj sebagai dua perjalanan yang terpisah:

  1. Isra: Perjalanan horizontal dari Masjidil Haram di Mekah ke Masjidil Aqsa di Palestina.
  2. Mi’raj: Perjalanan vertikal dari Masjidil Aqsa menuju Sidratul Muntaha.

Namun, jika merujuk pada ayat dalam Alqur’an, hanya istilah “Isra” yang disebutkan. Ini menunjukkan bahwa Isra mencakup perjalanan satu dimensi menuju tempat yang jauh dan tinggi (Aqsa). Tidak ada istilah khusus “Mi’raj” dalam ayat tersebut, sehingga maknanya bisa dianggap telah tergabung dalam kata “Isra”.


Makna Aqsa: Bukan di Palestina?

Banyak umat Islam menganggap Masjidil Aqsa yang disebut dalam Alqur’an berada di Yerusalem, Palestina. Namun, mari kita kaji lebih dalam:

  • Kata “Aqsa” bermakna “tempat yang sangat jauh dan tinggi”.
  • Dalam konteks geografi, Palestina lebih dekat dengan Mekah dibandingkan dengan wilayah Rum (Bizantium) atau Persia (Iran). Ayat Alqur’an menyebut Rum dan Persia sebagai “negeri yang dekat”. Dengan demikian, Aqsa dalam Alqur’an kemungkinan bukan merujuk pada Palestina.

Hal ini juga diperkuat oleh fakta bahwa Masjidil Aqsa di Yerusalem baru dibangun pada masa Khalifah Umar bin Khattab setelah Yerusalem dikuasai.


Isra: Perjalanan untuk Tanda Kebesaran, Bukan Perintah Shalat

Pandangan umum menyebut bahwa Isra Mi’raj bertujuan untuk menerima perintah shalat. Namun, tidak ada ayat dalam Alqur’an yang secara eksplisit menyatakan hal ini.

  • Isra Terjadi Tahun Ke-9 Kenabian: Pada saat itu, Nabi Muhammad SAW dan para sahabat telah melaksanakan shalat sejak awal wahyu diturunkan. Bahkan, Nabi pernah melaksanakan shalat Dzuhur bersama Abu Bakar dan Ali di depan Ka’bah pada tahun kedua kenabian.
  • Tujuan Perjalanan: Alqur’an menyebutkan bahwa perjalanan ini bertujuan menunjukkan tanda-tanda kebesaran Allah, bukan untuk menjemput perintah shalat.

Kisah Tawar-Menawar Shalat: Hadits Israiliyat?

Sebagian riwayat menyebut adanya tawar-menawar perintah shalat antara Nabi Muhammad SAW dan Allah melalui Nabi Musa. Namun, riwayat ini sering dikaitkan dengan hadits Israiliyat, yaitu hadits yang disandarkan pada tradisi Bani Israel.


Pindah Kiblat: Bukan ke Palestina

Perintah untuk memindahkan kiblat dari Ka’bah di Mekah terjadi karena alasan jelas:

  • Ka’bah saat itu dikelilingi banyak patung berhala, yang dibawa oleh para pedagang dari Yerusalem.
  • Mengarahkan kiblat ke sumber berhala di Yerusalem bertentangan dengan tujuan pemindahan kiblat itu sendiri.

Maka, arah kiblat ke utara yang dimaksud bukan menuju Palestina, melainkan lokasi lain yang jauh dari pengaruh berhala.


Yerusalem: Tempat yang Diberkahi atau Medan Perang?

Alqur’an menyebutkan bahwa tempat yang diberkahi adalah sekeliling lokasi Isra. Namun, sejak hijrahnya Bani Israel dari Mesir ke Palestina, wilayah ini menjadi ajang peperangan hingga hari ini. Hal ini bertentangan dengan gambaran “tempat yang diberkahi”.

Fakta sejarah menunjukkan bahwa Masjid di Yerusalem baru dibangun pada masa Khalifah Umar. Dengan demikian, Aqsa yang dimaksud dalam Alqur’an kemungkinan tidak merujuk pada Palestina.


Pentingnya Tidak Menambah atau Mengurangi Makna Ayat

Pemahaman yang keliru sering kali terjadi karena manusia menambah-nambah atau mengurangi makna dari ayat Alqur’an. Hal ini seharusnya dihindari agar tidak menyesatkan pemahaman umat Islam.

Sebagaimana pesan dari “Cah Angon”, mari kita kembali kepada makna asli ayat-ayat suci tanpa menambah atau mengurangi substansinya.

editor Soleh dan Fitra

Views: 0

Tag:

Tinggalkan Balasan