Pandeglang (babadbanten.com). Awalnya sebelum terjadi letusan gunung Krakatau, kampung caringin berada di tengah-tengah antara gunung Krakatau dan kampung caringin sekarang. Termasuk masjidnya. Kampung itu tadinya bernama kampung kabua. Dan setelah terjadi letusan gunung Krakatau, masjid yang tadinya di kaboa dipindahkan ke masjid assalafi caringin sekarang.
Peninggalan satu-satunya masjid lama yang masih utuh yang berhasil dipindahkan oleh syeikh Asnawi Caringin dan masyarakat (murid-muridnya) pada waktu itu ke masjid assalafi caringin sekarang adalah mimbar khutbah-nya.
Mimbar khutbahnya itu terdapat ukiran pohon nanas, yang berarti keturunan Syeikh Asnawi Caringin dan keturunan Mataram Banten pada umumnya akan terus bertunas.
Masjid Agung Assalafi Caringin adalah termasuk ke dalam cagar budaya karena dianggap sangat bersejarah dan mengandung pesan yang sangat mendalam bagi generasi penerusnya. Juga bagi para murid tarekat qodiriyah wanaqsyabandiyah yang silsilahnya bersambung kepada Syeikh Asnawi Caringin.
Dahulu para ulama, para hukama dan penerus kesultanan Banten hampir seluruhnya berba’iat tarekat kepada Syeikh Asnawi Caringin. Diantara murid-muridnya Syeikh Asnawi Caringin adalah: Abuya Abdul Halim kadupeusing Pandeglang Banten, beliau adalah bupati Pandeglang pertama dan dzurriah kesulthonan Banten. Syeikh Ahmad Suhari Cibeber, Syeikh Astari Cakung kresek Tangerang Banten, beliau dzurriahnya Syeikh Hasan Basri dan bersambung kepada Syeikh ciliwulung bin Raden kenyep. Syeikh jahari Ceger Bekasi yang silsilah nasabnya masih bersambung kepada kesultanan Banten. Dan masih banyak lagi murid-muridnya Syeikh Asnawi Caringin yang kesemuanya menjadi ulama-ulama besar di jamannya dan penerus kesulthonan Banten dan para auliya Alloh.
















