Pertarungan “Walisongo” vs “9 Naga” di zaman metavers
Bagian kesembilan (habis)
Republik Indonesia adalah milik kita, Rakyat Indonesia.
Kita, Rakyat Indonesia adalah Owner Sesungguhnya Republik Indonesia.
Republik Indonesia adalah warisan perjuangan leluhur Nusantara untuk para anak cucu dan para keturunannya agar bisa hidup damai, harmoni, sejahtera, adil dan makmur. Cukup Pangan, Sandang dan Papan.
Menjadi Republik Indonesia tidak gratisan. Para leluhur Nusantara harus membayarnya dengan tetesan keringat, airmata, tetesan darah bahkan dengan nyawa.
Tidak terhitung banyak nyawa yang berkorban untuk berdirinya Republik Indonesia di tanah air Nusantara ini.
Adalah aneh bila kita sebagai pewaris, owner dan generasi penerus mata rantai perjuangan leluhur Nusantara merasa diri ngontrak di tanah air leluhurnya sendiri.
Penyakit inferior Complex harus disembuhkan dari pikiran, perasaan dan sikap mental rakyat Indonesia.
Tidak ada obat yang mujarab untuk menyembuhkan penyakit tersebut kecuali dihidupkan kembali spirit kebangsaan dalam dirinya. Dituturkan kembali sejarah bangsa leluhurnya. Disadarkan kembali alam pikirannya dari dogma-dogma khurafat sejarah yang menyesatkan.
Dogma-dogma khurafat sejarah yang menyesatkan harus dihancurkan. Alam Pikir Nusantara harus dinyalakan. Jiwa ksatria Nusantara harus kembali ditanamkan dalam dada.
Sebab bila alam pikir Nusantara sudah hidup dalam jiwa seluruh rakyat Indonesia, sikap militansi sebagai bangsa akan tumbuh dengan sendirinya. Dirinya akan menjadi benteng hidup yang akan menjaga tanah Airnya sebagai Bangsa.
Republik Indonesia adalah wujud dari doa-doa para wali, para ulama, para pejuang dan doa seluruh rakyat Indonesia yang mencita-citakan kehidupan yang sejahtera, makmur, penuh cinta kasih sesama putera Bangsa Indonesia berdasarkan Pancasila sebagaimana yang termaktub dalam pembukaan UUD Negara tahun 1945.
Dulu leluhur kita “Walisongo” berjuang menegakkan Ajaran Islam Rahmatan Lil Alamin. Ajaran cinta kasih untuk semua makhlukNya. Dan berhasil menamakan, menumbuhkan dan berbuah dalam kehidupan nyata bangsa Nusantara.
Bangsa Nusantara menjadi imperium dunia yang disegani. Bangsa-bangsa dunia dari Eropa, Arab, Afrika, dan India datang silih berganti. Mereka mencari penghidupan ditanah leluhur kita.
Di zaman metavers ini, tugas kita sebagai generasi penerusnya wajib menjaga Tanah Air Warisan leluhur Nusantara untuk mewujudkan kehidupan rakyat Indonesia yang merdeka 100 persen, berdaulat Adil dan makmur.
Kita tidak boleh berdiam diri atas perlakuan “9 Naga” atau siapapun yang merasa superior diatas penderitaan rakyat Indonesia. Apalagi disertai dengan menyebarkan dogma-dogma khurafat Sejarah di Tanah Air kita.
Caranya? kita harus serius dan bersungguh-sungguh mengisi Kemerdekaan Bangsa Indonesia dengan Ilmu, Amal Usaha dan Taqwa Kepada Tuhan dengan sebenar-benarnya.
Tanpa Ilmu, amal Usaha dan Taqwa kita hanya akan menjadi orang ngontrak di rumah sendiri. Dan ini sangat berbahaya bagi masa depan anak keturunan kita.
Bertindak sekarang atau tertindas seterusnya.
Merdeka 💯 Persen…!!!
Penulis Tubagus Soleh, Ketum Pucuk Umun BABAD BANTEN
















