Beranda / Trending / Orang Bodoh yang Retoris Lebih berbahaya daripada Orang Pintar yang Penakut

Orang Bodoh yang Retoris Lebih berbahaya daripada Orang Pintar yang Penakut

Orang Bodoh yang Retoris Lebih berbahaya daripada Orang Pintar yang Penakut

Tangerang, Senin 19/01/2026 (babadbanten.com). Aristoteles ngomong, bahwa Orang bodoh yang retoris bisa jadi lebih berbahaya dari orang pintar yang diam.

Seseorang yang memiliki kemampuan Retorika bisa menggerakkan Massa Aksi. Banyak Kasus di dunia, rakyat bergerak karena Kata-kata Retoris dari Top Leader Demonstran.

Kita bisa membayangkan, seandainya para Pemimpin Demonstran dengan kemampuan restorisnya yang bisa menghipnotis massa tapi tanpa pengetahuan bukankah dapat menyesatkan banyak orang?

Dalam Rhetoric, Aristoteles menjelaskan bahwa retorika adalah kemampuan mempengaruhi orang melalui kata-kata.

Jika retorika digunakan oleh orang yang tidak memiliki pengetahuan, nilai moral, atau kebijaksanaan, maka kata-katanya bisa menipu, memanipulasi, menyesatkan massa, dan memperkuat kebodohan.

Orang bodoh yang pandai berbicara dapat terlihat seolah benar, padahal salah.

Kekuatan kata-kata bisa lebih merusak daripada kekuatan fisik. Karena Kata-kata—terutama yang retoris—dapat menggerakkan massa, memicu kebencian, memprovokasi konflik, membuat keputusan buruk tampak benar, dan menyulut kekacauan sosial.

Ini membuat “orang bodoh yang retoris” menjadi berbahaya karena ia mampu mempengaruhi orang lain tanpa dasar kebenaran.

Sangat berbeda dengan Orang pintar yang diam, dia tidak memberikan ancaman serupa.

Orang yang pintar tetapi diam tidak akan mempengaruhi orang lain secara negatif, tidak menyesatkan, tidak menciptakan kerusakan sosial, tidak menyebarkan kesalahan melalui kata-kata.

Diamnya orang pintar mungkin merugikan dalam hal penyebaran solusi, tetapi tidak membawa bahaya langsung.

Kita harus ingatkan terhadap masyarakat yang mudah terpukau oleh kata-kata indah. Jangan sampai Retorika yang membuai itu menjebak pikiran masyarakat.

Tulisan ini mengingatkan bahwa masyarakat sering terpesona oleh pidato yang meyakinkan, terpengaruh gaya bicara, bukan substansi, memilih pemimpin berdasarkan retorika, bukan kebijaksanaan, mudah dimanipulasi oleh figur yang pandai berbicara tapi miskin isi.

Ini adalah gambaran klasik yang sering dikritik Aristoteles dalam etika dan politiknya.

Hal ini menegaskan bahwa kemampuan berbicara harus disertai dengan pengetahuan dan kejujuran, kata-kata sangat berbahaya jika dipakai tanpa kebijaksanaan, orang yang pandai berbicara tapi tidak memahami kebenaran bisa merusak masyarakat, dan retorika yang kosong lebih berbahaya daripada kebijaksanaan yang tak diucapkan.

Kata-kata tanpa pemikiran adalah kekuatan liar yang dapat menghancurkan lebih cepat daripada tindakan.(10155)

Editor : Tubagus XVII

Views: 5

Tag:

Tinggalkan Balasan