Beranda / Trending / Mitos, Makna, dan Masa Depan Bangsa

Mitos, Makna, dan Masa Depan Bangsa

Mitos, Makna, dan Masa Depan Bangsa

Oleh: Agus Somamihardja

Di antara semua makhluk yang pernah hidup, hanya manusia-lebih tepatnya Homo sapiens- yang mampu menguasai hutan, laut, gurun, bahkan angkasa luar. Padahal secara fisik, manusia bukanlah yang paling kuat. Harimau lebih tangguh, gajah lebih besar, burung lebih bebas.

Lalu, apa kelebihan kita?

Kata Yuval Noah Harari dalam bukunya Sapiens, jawabannya sederhana namun mengejutkan: manusia bisa percaya pada cerita yang tidak nyata, lalu bekerja sama dalam jumlah besar berdasarkan cerita itu.

Pikirkanlah. Kita membentuk negara karena percaya pada konsep “negara” – sesuatu yang tak bisa disentuh. Kita bekerja demi “uang”. Padahal itu cuma kertas atau angka. Kita hidup rukun karena percaya pada hukum, agama, dan nilai-nilai. Semuanya hanyalah imajinasi kolektif. Semuanya kesepakatan dalam pikiran bersama.

Tetapi Harari juga mengingatkan: tidak semua “kemajuan” membawa kebahagiaan bagi manusia.

Saat kita beralih dari berburu ke bertani, kita mengira itu adalah lompatan besar. Namun justru di situlah manusia mulai bekerja lebih keras, makan lebih monoton, dan lebih rentan terhadap penyakit. Kini pun, meski hidup makin cepat dan canggih, banyak dari kita justru merasa cemas, lelah, dan kehilangan makna.

Ironi sejarah itu nyata: manusia bisa mengendalikan dunia, tetapi belum tentu bisa mengendalikan dirinya sendiri.

Lalu, ke mana kita hendak pergi?

Teknologi memungkinkan kita memodifikasi gen, menciptakan kecerdasan buatan, memperpanjang umur. Namun pertanyaan Harari yang paling tajam bukan soal teknologi, melainkan soal tujuan: setelah bisa menciptakan apa pun, apa yang sungguh-sungguh kita inginkan?

Mungkin belum ada jawabannya. Tetapi kita bisa mulai dari pertanyaan yang sederhana dan jujur:
apakah cerita yang kita percayai tentang sukses, tentang hidup, tentang diri kita sendiri, benar-benar membuat kita lebih utuh sebagai manusia?

Atau kita hanya menjadi roda dalam sistem yang terus berputar tanpa arah?

Di masa perjuangan, bangsa ini pernah bersatu karena percaya pada satu cerita besar: bahwa kemerdekaan adalah hak segala bangsa, dan bahwa kita mampu berdiri di atas kaki sendiri.

Cerita itu, meski dibentuk dari imajinasi kolektif, sanggup menggerakkan jutaan orang – dari petani hingga pelajar, dari tokoh agama hingga seniman – untuk bersama-sama menolak penjajahan.

Sebagaimana cerita bisa membangun, ia juga bisa menghancurkan. Hari ini, kita justru terjebak dalam mitos kolektif yang negatif: bahwa bangsa ini lemah, tertinggal, korup, dan selalu kalah – seperti ketika kita cepat menyerah pada label “kalah bersaing” atau “tertinggal jauh” yang kerap didengungkan di media.

Maka, yang kita butuhkan bukan sekadar rencana pembangunan, tetapi juga cerita baru yang sanggup membangkitkan kepercayaan diri sebagai bangsa. Bukan ilusi kosong, tetapi narasi yang berpijak pada potensi dan tekad untuk bangkit.

Seperti yang pernah diingatkan Bung Karno:

“Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghormati jasa pahlawannya. Dan bangsa yang percaya pada dirinya sendiri akan mampu menentukan nasibnya sendiri.”

Sebab bangsa yang kehilangan mitos positif tentang dirinya, akan kehilangan makna; dan bangsa yang kehilangan makna, takkan pernah sampai ke masa depannya.

Editor : Raden Saderun Muda (RSM)

Views: 0

Tag:

Tinggalkan Balasan