Beranda / Trending / Belajar dari Pohon Bambu

Belajar dari Pohon Bambu

Belajar dari Pohon Bambu

Tangerang, Kamis 4/11/2025 (babadbanten.com). Perhatikan pohon bambu dengan seksama. Meskipun tinggi menjulang tapi tidak roboh karena terpaan angin kencang. Pohon bambu asyik mengikuti arah angin tanpa merasa lelah. Bahkan dengan riangnya pohon bambun itu mengeluarkan bebunyian yang merdu dan syahdu. Gesekan daun dan batangnya membikin alunan musik alami yang indah.

Mengapa pohon bambu sangat kuat dan mampu beradaptasi dengan situasi angin kencang? Karena akarnya menghujam dalam ke bumi. Pohon bambu sebelum menjulang tinggi batangnya terlebih dahulu akarnya menghujam ke bumi.

Kesabaran pohon bambu dalam memperkuat akar-akarnya patut kita jadikan pelajaran penting dalam catatan stratak.

Salah satu kelemahan yang mencolok dari sebuah gerakan adalah keinginan para aktornya cepat-cepat ingin menjadi tokoh terkenal. Seolah olah apa yang dilakukannya sudah hebat. Berita media yang luar biasa tentang sebuah kegiatan seolah-olah menggambarkan kebesaran sang aktor tersebut.

Dari beberapa pengalaman di gerakan, banyak yang terperosok karena timbul rasa gumede ketika kegiatannya mendapat publikasi luas dari media. Kemudian tanpa sadar merasa dirinya sudah menjadi tokoh.

Catatan stratak menegaskan, perjuangan politik atau menjadi tokoh politik berprosesnya sangat panjang. Long time. Publikasi media ibaratnya hanyalah siraman air kepada tanaman yang sifatnya sekali sekali saja. Karena tujuan utama dari gerakan politik adalah menancapkan gagasan politik ke dalam jiwa rakyat.

Sedangkan kita sebagai aktor politik ibarat petani yang harus menjaga dan merawat gagasan itu sudah tumbuh kembang atau belum.

Jika sebuah gerakan besar karena unsur duit sesungguhnya gerakan itu tidak memiliki akar sama sekali. Publikasi media bukanlah ukuran dari kokoh dan besarnya sebuah gerakan.

Kita melihat, banyak aktivis sejati lebih memilih bergerak secara senyap. Bergerak ditengah-tengah dan bersama sama rakyat. Karena mereka lebih memilih membangun akar yang kokoh bersama rakyat dibanding harus berlenggak lenggok karena publikasi media yang bombastis.

Meskipun nantinya gerakan mereka terpublikasi secara luas namun mental ruhani para aktivisnya sudah kuat untuk tetap bersikap rendah hati.

Publikasi media hanya merupakan sarana saja agar gagasan yang sudah tertancap dengan kokoh menjadi terpublikasi lebih luas lagi kepada masyarakat luas.

Dentuman tahun politik tahun 2018 sd 2019 memancing orang-orang untuk mengadu nasib dengan menjadi aktor politik dengan cara-cara yang instan.

Publikasi media yang bombastis membuat langsung terlena. Dan menjadi gumede seolah-olah dirinya sudah menjadi tokoh sungguhan. Bahkan berakibat gagal fokus untuk melanjutkan agenda-agenda kerja politik yang sudah menjadi agenda utama gerakan.

Menjadi tokoh sungguhan harus berproses dan terus berproses. Jangan pernah terpancing sudah menjadi tokoh besar. Apalagi merasa gumede. Karena itu awal dari kejatuhan.

Belajarlah tetap rendah hati dan mawas diri. Karena musuh sesungguhnya ada dalam diri kita sendiri.

Pohon bambu dengan akar yang kecil kecil ternyata lebih kokoh dari pohon ambon yang perbatang gede yang mudah tumbang karena terpaan angin puting beliung. Karena pohon bambu meski berakar kecil kecil tapi menghujam dalam ke dasar bumi. Setelah itu barulah tumbuh tunas dan batangnya hingga menjulang tinggi.

Belajarlah dari pohon bambu. Belajarlah rendah hati. Tetaplah bekerja dikedalaman. Jangan muncul dulu ke permukaan bila belum kokoh. Bila waktunya tiba,anda pasti jadi tokoh sungguhan. Bukan aktor figuran. (TS55)

Penulis Tubagus Soleh, Ketua Umum Pucuk Umun Kerabat dan Sahabat Kesultanan Banten (Babad Banten)

 

Views: 5

Tag:

Tinggalkan Balasan