Disarikan dari kitab Fath al-Majid karya Syekh Nawawi al-Jawi, Banten.
Mengenal Golongan Dahriyyah (Atheis)
Golongan Atheis atau Dahriyyah adalah kelompok yang mengingkari keberadaan Sang Pencipta, Allah SWT. Mereka percaya bahwa kehidupan ini terjadi secara alami tanpa campur tangan Tuhan. Segala sesuatu, menurut mereka, berasal dari rahim-rahim dan kembali ke tanah tanpa ada kekuatan Ilahi yang mengaturnya.
Keyakinan ini bertentangan dengan ajaran Islam yang menegaskan bahwa Allah SWT menciptakan segala sesuatu. Oleh karena itu, golongan Dahriyyah akan menghadapi azab pedih di akhirat kelak.
Abu Hanifah: Sang Pemikir Ulung
Abu Hanifah, bernama lengkap Nu‘man bin Tsabit, adalah pendiri Mazhab Hanafi. Lahir di Kufah pada abad pertama Hijriah, beliau dikenal sebagai ulama yang mendalami ilmu fikih dan tauhid. Salah satu gurunya adalah Syaikh Hammad bin Abu Sulayman, seorang ulama besar asal Kufah.
Pada usia muda, Abu Hanifah sudah menunjukkan kecerdasan luar biasa. Ia kerap diandalkan oleh gurunya untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan sulit. Salah satu kisah terkenal adalah perdebatan Abu Hanifah dengan seorang raja ateis yang mencoba membantah keberadaan Allah SWT.
Mimpi Syaikh Hammad dan Tafsir Abu Hanifah
Pada suatu hari, seorang raja ateis menantang para ulama untuk menjawab pertanyaannya tentang keberadaan Allah SWT. Semua ulama yang menghadapnya gagal memberikan jawaban yang memuaskan. Syaikh Hammad, guru Abu Hanifah, diminta untuk menghadap raja tersebut.
Namun, sebelum berangkat, Syaikh Hammad mengalami mimpi aneh. Ia melihat sebuah rumah besar dengan pohon-pohon berbuah lebat. Dari rumah itu muncul seekor babi yang memakan buah dan daun pohon hingga habis. Namun, seekor singa muncul dan membunuh babi tersebut.
Ketika menceritakan mimpinya kepada Abu Hanifah, muridnya itu menafsirkan bahwa rumah besar melambangkan Islam, pohon-pohon berbuah adalah para ulama, babi adalah raja ateis, dan singa adalah dirinya sendiri. Mimpi itu memberi isyarat bahwa Abu Hanifah akan membungkam raja tersebut.
Perdebatan Abu Hanifah dengan Raja Ateis
Setibanya di istana, Abu Hanifah menghadapi sang raja. Raja itu bertanya dengan nada sombong, “Apakah Allah itu ada?”
“Iya, Allah ada,” jawab Abu Hanifah dengan tenang.
“Di mana Allah berada?” tanya raja lagi.
“Allah tidak memiliki tempat,” jawab Abu Hanifah.
Raja kebingungan. “Bagaimana mungkin sesuatu yang ada tidak memiliki tempat?”
Abu Hanifah menjawab, “Apakah tubuh Anda memiliki ruh?”
“Tentu saja,” kata raja.
“Lalu, di mana letak ruh Anda? Di kepala, di dada, atau di kaki?” tanya Abu Hanifah.
Raja terdiam, tidak mampu menjawab.
Kemudian, Abu Hanifah mengambil segelas susu dan bertanya, “Apakah susu ini mengandung lemak?”
“Ya,” jawab raja.
“Di mana lemak itu berada? Di atas, di bawah, atau di tengah?” lanjut Abu Hanifah.
Raja kembali terdiam. Dengan dalil ini, Abu Hanifah menunjukkan bahwa keberadaan Allah tidak memerlukan tempat, sebagaimana ruh dan lemak tidak memiliki lokasi spesifik.
Allah Tak Memiliki Awal dan Akhir
Raja melanjutkan dengan pertanyaan berikutnya. “Apa yang ada sebelum Allah, dan apa yang ada setelah-Nya?”
Abu Hanifah menjawab, “Allah tidak memiliki awal dan akhir, sebagaimana jari tangan Anda. Tidak ada apa pun sebelum ibu jari dan setelah jari kelingking Anda.”
Raja sekali lagi tak mampu membantah jawaban Abu Hanifah.
Pekerjaan Allah Saat Ini
Raja menantang Abu Hanifah untuk terakhir kalinya. “Apa pekerjaan Allah saat ini?”
Abu Hanifah dengan cerdik meminta raja untuk turun dari singgasananya dan memberikan tempat itu padanya. Setelah raja menurut, Abu Hanifah berkata, “Pekerjaan Allah saat ini adalah menjatuhkan kebatilan sepertimu dari atas ke bawah dan meninggikan kebenaran sepertiku dari bawah ke atas.”
Raja tidak dapat berkata apa-apa lagi. Ia takluk di hadapan Abu Hanifah yang masih muda namun memiliki pemikiran tajam dan logika kuat.
Kesimpulan: Kekuatan Logika dalam Islam
Kisah ini menunjukkan bahwa logika dan dalil yang kuat dapat mengalahkan kesombongan. Abu Hanifah, dengan kecerdasannya, berhasil membungkam seorang raja ateis dan membuktikan keberadaan Allah SWT.
Kecerdasan Abu Hanifah menjadikannya salah satu ulama besar dalam sejarah Islam. Wallahu a’lam.
Views: 0







