JATMA ASWAJA Banten Merespon Tantangan Zaman; Sebuah selayang Pandang
Tangerang, Ahad 23/11/2025 (babadbanten.com). Kami dipersatukan oleh spirit yang sama yaitu ingin meninggikan marwah Banten, Tanah penuh berkah Para Sultan dan Para Wali. Kami bukan siapa-siapa, bukan kyai, bukan Ustaz, bukan Sarjana, bukan pejabat. Kami hanyalah Muhibbin, orang kecil, orang bawah yang berjuang keras dengan sekuat-kuatnya mendapatkan cinta dan kasih sayangnya dari Sang Kekasih.
Kami dipertemukan oleh rasa senasib dan sepenanggungan yang sama-sama ingin berbuat dan mengisi gedung kemerdekaan Bangsa Indonesia ini dengan karya jiwa raga kami meskipun terlihat dari jauh hanya sebutir debu. Debu-debu dzikir yang kami lantunkan ini insyaalloh akan tumbuh,kuat dan berbuah. Bahkan suatu saat akan menjadi benteng hidup bangsa Indonesia.
Begitulah obrolan ringan yang terkadang menjadi diskusi serius kami para pengurus JATMA ASWAJA Banten ditemani secangkir kopi hitam, ditemani cemilan ringan yang menyegarkan.
Dalam diskusi yang sederhana–karena kami bukan sarjana–rata-rata yang bergabung di JATMA ASWAJA Banten berlandaskan Spiritual, Keyakinan yang kokoh, dan cinta yang murni kepada Abah Habib Lutfhi. Sebab orang-orang kecil seperti kami ini membutuhkan ”sosok mesiah” yang bisa dijadikan pegangan dan sandaran dalam pergulatan hidup era metavers yang sangat ganas dan keras.
Kami tahu di zaman metavers ini tidak ada ”ideologi” yang bisa dijadikan pegangan seratus persen. Karena pasca runtuhnya Uni Sovyet sesungguhnya sudah tidak ada lagi perang ideologi. Perang atas dasar agama di zaman metavers sepertinya juga tidak laku. Justru yang muncul adalah perang ekonomi yang tidak mengenal belas kasihan. Dampaknya begitu sangat terasa sekali. Muncul kantong-kantong kemiskinan baru. Sudah bekerja keras tapi tetap aja hidup pas-pas-an. Aneh tapi nyata.
Orang-orang kecil seperti kita sangat gamang, ketakutan dan merasa hidup penuh intimidasi. Ideologi dan ajaran agama belum menjadi solusi konkret. Orang-orang kecil seperti kita butuh sosok mesiah yang bisa menjadi pegangan dan sandaran untuk menuntun jalan dan menyelamatkan hidup kita dari mesiu-mesiu dunia yang kasat mata.
Ketika pilihan itu kami putuskan untuk bergabung, berhimpun dan berjuang di JATMA ASWAJA Banten karena kami yakin sosok Abah Habib Lutfhi mampu menjadi nahkoda ”Perahu Nuh” yang bernama JATMA ASWAJA, menjadi ”penyelamat” hidup kami dari Air Bah Malhamah Kubro Metavers.
Karena di JATMA ASWAJA Banten kami bukan sekedar berorganisasi biasa tapi lebih dari itu kami di didik untuk menjadi manusia Indonesia seutuhnya. Kami percaya, JATMA ASWAJA bermanfaat untuk NKRI.(10155)
Penulis Tubagus Soleh, Sekretaris Umum PW JATMA ASWAJA Banten Masa Khidmat 2025 sd 2030
Editor : RSM
















