Beranda / Trending / Demokrasi yang menipu, Rakyat Teriakan “No Kings” di Amerika

Demokrasi yang menipu, Rakyat Teriakan “No Kings” di Amerika

Demokrasi yang menipu, Rakyat Teriakan “No Kings” di Amerika

Tangerang, Senin 30/03/2026 (babadbanten.com). Di belahan bumi utara, ada panas yang membara. Bukan panas matahari, tapi panasnya suara rakyat yang membentang dari New York hingga Los Angeles, dari pedalaman Texas hingga pinggiran Chicago.

Sebuah teriakan kuno namun menyala kembali mengguncang Amerika Serikat. “No Kings!” Tidak ada raja.

Jutaan warga membanjiri lebih dari 3.000 titik di 50 negara bagian, bahkan merambat ke London dan Paris. Bukan sekadar protes biasa. Ini adalah muntahan kekecewaan terhadap kepemimpinan Presiden Donald Trump yang dinilai terlalu dominan, otoriter dan seperti seorang raja.

Mereka membawa isu imigrasi, kebebasan sipil hingga ketegangan geopolitik dengan Iran. Yang menarik, gelombang ini tak hanya terjadi di kota oposisi, tapi juga di kantong-kantong Republik. Ini pertanda demokrasi AS sedang sakit. Ketika rakyat yang dulu memilih, kini berteriak keras karena takut kehilangan kontrol atas “raja” yang mereka ciptakan sendiri.

Namun, mari kita hentikan sejenak hiruk-pikuk Washington. Mari kita tarik napas dan renungkan.

Apa yang terjadi di Amerika hari ini, sesungguhnya buah dari sistem demokrasi yang menipu rakyat. Demokrasi ternyata melahirkan “kediktatoran absolut” atas nama suara rakyat.

“Demokrasi memberikan kekuasaan mutlak kepada mayoritas (pemenang) untuk melakukan apa pun, bahkan melanggar hak-hak minoritas (pihak yang kalah)”.

Sekarang, faktanya demokrasi di negara adidaya Amerika mulai terdengar teriakan “No Kings” yang begitu menggema. Rakyat Amerika merasa tertipu dengan suara mereka sendiri. Ironisnya bahkan lucu juga, protes ini terjadi di negara yang tidak memiliki raja. Mereka membuang monarki Inggris berabad-abad lalu. Namun hari ini, mereka merasa diperintah oleh ‘Raja’ yang lahir dari kotak suara. Lucu kan jadinya?

Fakta di Amerika ini, mengingatkan kita bahwa sistem buatan manusia apapun bentuknya baik itu presidensial, parlementer atau republik, pada akhirnya akan bermuara pada konsentrasi kekuasaan yang menindas. Selama hukum dibuat oleh manusia yang punya nafsu serakah dalam berkuasa dan selama kekuasaan eksekutif bisa melampaui batas, maka “Raja baru” akan selalu lahir. Bisa seorang presiden, bisa seorang perdana menteri, bisa juga diktator mayoritas.

Dan itulah buah dari Demokrasi yang selalu digadang-gadang oleh antek-anteknya.

Gelombang protes di Amerika itu adalah bukti otentik. Mereka berteriak “No Kings” karena mereka hidup dalam sistem yang tidak pernah benar-benar bisa melepaskan jubah kezaliman. Mereka mengganti mahkota emas dengan dasi dan kursi kepresidenan, namun rasa takut akan tirani tetap abadi.

Ketika demonstran di Amerika meneriakkan “No Kings”, sejatinya jiwa fitrah mereka sedang merindukan keadilan. Hanya saja, mereka mencari obat di apotek yang keliru.

Kita tidak perlu ikut-ikutan meneriakkan “No Kings” di negeri kita sendiri. Karena kita sudah punya konsep yang lebih agung yaitu Demokrasi Pancasila sebagaimana yang termaktub dalam pembukaan UUD 1945.

Marilah kita jadikan peristiwa di Amerika sebagai pelajaran. Bahwa sistem sekuler, betapapun canggihnya, akan selalu melahirkan raja-raja baru yang harus dilawan oleh rakyatnya.

Mari kita renungkan sejenak. Sampai kapan dunia akan terus berganti protes, berganti presiden, tapi tetap berganti-ganti rasa kecewa?

Tetaplah berpikir, karena dengan berfikir kita menjaga kewarasan berdemokrasi, bukan hanya untuk hanya untuk hari ini tapi untuk masa depan Indonesia kita. Jayalah Nusantara. (red101)

Editor : Wira Soleh

 

Views: 27

Tag:

Tinggalkan Balasan