Menu

Mode Gelap
Thoriqot, Pilar Utama Pergerakan BABAD BANTEN Inkompentensi Pejabat Sangat Membahayakan Bagi Masa Depan Bangsa Belajar dari Pohon Bambu Pondok Pesantren Modern Daarul Muttaqien : Melahirkan Alumni Hebat FILSAFAT RASA: Menemukan Kembali Organ Pengetahuan Nusantara

Hukum · 29 Agu 2025 11:25 WIB ·

Catur Kekuasaan Prabowo


 Tubagus Saptani, Tokoh Muda Banten Perbesar

Tubagus Saptani, Tokoh Muda Banten

Catur Kekuasaan Prabowo
Oleh Tubagus Saptani

Tangerang, Jum’at 29/08/2025 (babadbanten.com). Beberapa waktu yang lalu, sekelompok Tentara Purnawirawan meminta kepada DPR untuk memakzulkan Gibran Rakabuming Raka sebagai Wakil Presiden. Tuduhannya sederhana karena Gibran sebagai Wapres tidak memiliki kapasitas dan dituduh sebagai anak haram konstitusi.

Tuduhan yang sangat sederhana tapi serius. Pasalnya bila permintaan ini dipenuhi oleh Pimpinan DPR dan didukung oleh MPR hitungan politiknya bakal ramai.

Signal Jokowi begitu keras menanggapi permintaan pemakzulan Gibran. Jokowi dengan tegas mengatakan bahwa Gibran merupakan satu paket dengan Presiden Prabowo Subianto.

Cukup dengan pernyataan datar Jokowi tersebut tekanan politik dari para purnawirawan kepada pimpinan DPR dan MPR tidak mendapatkan atensi yang menggembirakan. Akhirnya Isyu politik itu pun lenyap tanpa jejak.

Namun disisi lain dinamika politik sangat dinamis dan sepertinya diluar batas kendali para pimpinan parpol.

Pernyataan dan perilaku anggota DPR yang dianggap tidak patut dan sangat menyinggung emosi rakyat Indonesia memunculkan percikan kemarahan yang membakar.

Suara Bubarkan DPR pun bergema. Rakyat tanpa dikomandoi oleh siapapun bergerak sendiri-sendiri. Dengan tuntutan yang sama: Bubarkan DPR. Bedebahnya respon DPR sangat naif dengan menghina rakyat yang meminta DPR dibubarkan dengan kata-kata –meminjam istilah Gus Dur– seperti anak-anak TK.

Uniknya, mungkin ini diluar hitungan elit politik. Ketika gerakan mahasiswa mandul dan tidak bernyali, ternyata Massa Demonstran OJOL–rakyat kecil yang berjuang buat keluarganya dan bangsanya– tampil maju ke depan mengkritisi dan mengkritik kebijakan absurd DPR yang dengan tanpa belas kasih dan empati pada rakyat memilih menaikan gaji dan tunjangan yang jumlahnya sungguh aduhai.

Dan tadi malam, kita harus menyaksikan Saudara kita Affan Kurniawan Driver Ojol harus mati dilindas Barakuda Polisi di depan rakyat Indonesia. Dan disaksikan dengan terang benderang oleh seluruh masyarakat dunia Internasional.

Tindakan polisi tersebut sangat mencengangkan kita. Bahkan sangat mencoreng muka kekuasaan Presiden Prabowo dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka sebagai pemimpin tertinggi Bangsa Indonesia yang selalu berbicara Perdamaian Dunia di Palestina dan Ukraina. Atau berbicara tentang kemanusiaan di atas podium dunia.

Bagaimana mungkin Presiden Prabowo yang begitu fase berbicara kemanusiaan di Gaza Palestina tapi bisu berbicara kemanusiaan terhadap rakyatnya sendiri yang dilindas oleh Barakuda polisi?

Bagaimana mungkin Presiden Prabowo yang faseh berbicara perdamaian dunia di Ukraina tapi gagu berbicara perdamaian dengan rakyatnya sendiri.

Lalu apa yang bisa kita harapkan Pemimpin Bangsa seperti itu? Apakah masih pantas kita jadikan pemimpin bangsa kita?

Sebagai rakyat, kita menginginkan Presiden Prabowo Subianto harus tegas pada aparat yang menindas rakyat. Lindungilah rakyatmu dengan cinta bukan dengan dilindas Barakuda.

Dalam catatan sejarah gerakan rakyat di Indonesia, tidak ada satu kekuatan kekuasaan yang bisa menahan gempuran rakyat. Sekuat apapun dan ditopang oleh pasukan elit sekalipun. kekuasaan itu pasti tumbang. Dan Presiden Prabowo Subianto sudah merasakannya di era 98.

Mumpung masih ada waktu, Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka lakukanlah sesuatu yang bisa memulihkan kepercayaan rakyat pada pemerintah. Sebab bila hal ini dibiarkan saja kemungkinan terjadi cheos setelah demo 28 Agustus 2025 sangat besar. Apalagi pihak aparat sudah jatuh mentalnya sehingga tidak bisa mengendalikan massa aksi maka ini skenario terburuk (worst-case) yang bisa saja terjadi.

Skenario Terburuk

Presiden Prabowo Jatuh sebelum Desember 2025

Dengan beberapa alasan. Pertama, eskalasi Demo Mahasiswa & Buruh kemungkinan akan bergelombang sebagai bentuk solidaritas rakyat.

Korban OJOL akan jadi simbol aksi “Solidaritas Nasional” dan bisa merembet ke kota-kota besar seluruh Indonesia. Hal ini akan sangat menggangu stabilitas politik dan berdampak pada gangguan ekonomi nasional.

Di zaman metaverse, apapun yang terjadi bisa sangat cepat viral. Bila tindakan aparat seperti yang terjadi kemarin maka bisa dipastikan video kekerasan korban baru aparat akan menambah beban berat mental aparat di tingkat bawah.

Dampaknya akan memicu solidaritas rakyat yang lebih solid. Seandainya seluruh buruh menyatakan mogok nasional maka ekonomi akan lumpuh. Kawasan industri Bekasi, Karawang dan Cikarang berhenti, tol blokir, pelabuhan terganggu. Bisa menambah eskalasi gerakan massa.

Maka Narasi Demo pun berubah : dari tolak upah murah menjadi Turunkan Presiden.

Alasan kedua, Akibat eskalasi politik massa aksi begitu kuat maka Legitimasi Politik pun Runtuh.

Disini kita bisa baca dikalangan DPR akan terbagi beberapa faksi : pertama faksi NasDem, Demokrat, bahkan sebagian Golkar mulai lirik oposisi. Mereka akan usulkan Hak Angket soal pelanggaran HAM & ekonomi.

Media internasional seperti BBC, Reuters, Al Jazeera sudah sorot “Indonesia menuju Reformasi 2.0”. Akan terus jadi corong internasional yang bisa menambah tekanan kepada Prabowo Subianto.

Bisa diduga, kebiasaan lama akan muncul lagi, kemudian Investor asing tarik dana, rupiah melemah tajam (Rp 18.000–19.000/USD).

Sementara melihat keadaan seperti itu, elit militer mulai khawatir, tidak mau diseret jadi kambing hitam.

Seandainya. Ini baru seandainya. Eskalasi politik ini tidak bisa dikendalikan maka akan lahir Momentum Krisis.

Demo di Jakarta bisa tembus ratusan ribu massa. DPR/MPR di kepung massa demonstran. Bukanlah basis intinya mahasiswa tapi rakyat kecil yang memang berjuang untuk perbaikan bangsa.

Disinilah “pemain”, “pialang,” durno”, dan Sengkuni bermunculan. Di sini pula insting politik Presiden Prabowo Subianto diuji.

Kita lihat saja. Apakah catur Kekuasaan Prabowo akan berlanjut atau the end setelah tragedi Pejompongan.(101)

Editor : TS101

Artikel ini telah dibaca 43 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Thoriqot, Pilar Utama Pergerakan BABAD BANTEN

4 Desember 2025 - 23:04 WIB

Inkompentensi Pejabat Sangat Membahayakan Bagi Masa Depan Bangsa

4 Desember 2025 - 03:46 WIB

Belajar dari Pohon Bambu

4 Desember 2025 - 02:35 WIB

Pondok Pesantren Modern Daarul Muttaqien : Melahirkan Alumni Hebat

3 Desember 2025 - 06:27 WIB

FILSAFAT RASA: Menemukan Kembali Organ Pengetahuan Nusantara

3 Desember 2025 - 04:32 WIB

Untuk Apa Banyak-banyak Kawan

3 Desember 2025 - 03:51 WIB

Trending di Berita