Beranda / Trending / Untuk Membangun Kekuatan, Kita Butuh Organisatoris Ulung

Untuk Membangun Kekuatan, Kita Butuh Organisatoris Ulung

Untuk Membangun Kekuatan, Kita Butuh Organisatoris Ulung

Berabad-abad kita dijajah, berabad-abad pula kita hanya duduk bersila menunggu datangnya Sang Penyelamat dari Langit. Inilah titik terendah dari nalar sebuah bangsa: ketika penderitaan nyata hanya dijawab dengan dongeng keselamatan.

Logika Mistik yang Melumpuhkan

Tan Malaka menyebut ini sebagai penyakit mental.

Mengharapkan ‘Satrio Piningit’ atau ‘Ratu Adil’ adalah bukti bahwa kita sebangai bangsa tidak percaya pada kekuatan diri sendiri.

Selama kita sebagai bangsa masih percaya keajaiban akan turun dari awan, selama itu pula kita sebangai bangsa akan menjadi mangsa empuk bagi mereka yang menggunakan nalar dan organisasi.

Keajaiban Tidak Memberi Makan

Sementara penjajah sibuk membangun pabrik, menghitung logistik, dan menguasai teknologi mesiu, kita justru sibuk menafsirkan ramalan kuno.

Hasilnya? Penjajah pulang membawa emas, kita tetap tinggal dengan ramalan yang tak kunjung jadi nyata.

Aksi Massa vs Ritual Pasif

Tan Malaka menegaskan dalam MADILOG, bahwa perubahan besar tidak lahir dari pertapaan di gua atau jimat di pinggang.

Perubahan lahir dari Aksi Massa yang Terorganisir, nalar yang jernih, dan keberanian untuk berhenti menjadi penonton sejarah.

Siapa yang Paling Diuntungkan?

Siapa yang paling senang jika rakyat percaya pada Ratu Adil?

Tentu saja para penindas…!!!

Karena rakyat yang sibuk ‘menunggu’ adalah rakyat yang tidak akan pernah ‘melawan’.

Mitos ini adalah tembok terkuat dari Kandang Kebodohan yang memenjarakan nalar kita.

Catatan Edukasi

Mitos Ratu Adil bukan simbol harapan, melainkan monumen keputusasaan nalar.

Kita merayakan dongeng penyelamatan untuk menutupi ketidakberdayaan kita dalam berorganisasi.

Berhentilah mencari sosok sakti di awan, mulailah mencari nalar di dalam kepala. Karena kemerdekaan sejati tidak butuh ramalan takhayul, dia butuh keberanian untuk berpikir rasional di tengah kepungan takhayul dan Khurafat.(101)​

Editor : Soleh XVII

Views: 7

Tag:

Tinggalkan Balasan