“Ngaji Filsafat : Socrates”
“Kebaikan tidak boleh hanya berhenti pada pikiran, tetapi harus menjelma dalam tindakan nyata.”
Tangerang,27/07/2025 (babadbanten.com). Socrates meyakini bahwa kebaikan tidak boleh hanya berhenti pada pikiran, tetapi harus menjelma dalam tindakan nyata. Ketika ia mengatakan bahwa “kehidupan yang tidak diperiksa tidak layak dijalani”, ia mengajak manusia untuk tidak tenggelam dalam keheningan moral.
Jika seseorang mengetahui apa yang benar tetapi memilih diam, maka ia membiarkan ruang bagi kejahatan untuk tumbuh. Bagi Socrates, tindakan melawan ketidakadilan bukan sekadar kewajiban hukum, melainkan panggilan jiwa untuk menjaga harmoni kosmik yang terbangun atas dasar keutamaan.
Netralitas bukanlah tanda kebijaksanaan, melainkan bentuk ketakutan yang membiarkan jiwa terikat oleh ketidakberanian. Maka, ketika orang benar berdiam, ia sebenarnya sedang menulis bab baru dalam sejarah ketidakadilan, karena kejahatan hanya membutuhkan satu syarat untuk menang: ketidakaktifan mereka yang mengetahui kebenaran.
Dalam Apology, Plato menuliskan pembelaan Socrates yang menolak tunduk kepada tekanan mayoritas ketika diminta untuk berhenti mengajarkan kebenaran. Sikap ini menegaskan bahwa kebajikan lahir dari keberanian untuk bertindak sesuai suara nurani, meskipun harus berhadapan dengan risiko sosial atau kematian.
Socrates memandang keadilan sebagai sesuatu yang tidak boleh dikompromikan demi kenyamanan pribadi, sebab membiarkan ketidakadilan sama artinya dengan mengkhianati jiwa. Ia menolak untuk menjadi penonton yang diam karena diam berarti ikut menyuburkan keburukan.
Dari gagasan ini, kita belajar bahwa kesadaran moral menuntut keberanian untuk menentang arus, meskipun suara kita adalah satu-satunya yang terdengar. Dalam konteks ini, kebajikan bukan hanya teori, melainkan praktik yang menghidupkan nilai kebenaran dalam dunia yang sering kali tunduk pada suara mayoritas.
Socrates percaya bahwa kebahagiaan sejati tidak terletak pada keselamatan diri, tetapi pada kesetiaan terhadap kebaikan. Ketika seseorang diam karena takut kehilangan posisi, keamanan, atau persahabatan, ia sebenarnya sedang mengorbankan integritas moralnya.
Diam dalam menghadapi ketidakadilan adalah racun yang perlahan merusak tatanan sosial, karena ia menciptakan ruang kosong di mana kejahatan bebas bergerak tanpa perlawanan. Dalam pandangan Socrates, setiap manusia adalah penjaga nilai, bukan penonton pasif dalam drama kehidupan. Maka, jika kita ingin dunia berdiri di atas kebenaran, kita harus berani berbicara dan bertindak, meskipun langkah itu terasa berat. Sebab, kejahatan tidak pernah membutuhkan kekuatan besar untuk menang; cukup satu hal: kebisuan orang-orang yang tahu apa itu kebaikan.(red/babadbanten.com)
Editor : TS101
















