PSN PIK2 sudah Hancur di mata rakyat Banten Tegas Waketum BABAD BANTEN Maman Fathurochman
Tangerang (babadbanten.com). Polemik PSN dan PIK 2 yang berkepanjangan membuat citra PSN di kawasan PIK 2 dianggap tidak kredibel dan hanya membuat Oligarki cs semakin kaya raya saja. Sedangkan rakyat yang sudah ratusan tahun tinggal di tanah yang menjadi lokasi PSN PIK 2 tidak diberikan peluang untuk bisa berkembang bertumbuh dan dilibatkan dalam proses awal diterbitkan PSN ini oleh rezim sebelumnya.
Sudah menjadi rahasia umum, bila mengikuti penuturan dari seorang nelayan Holid Mikdar bahwa PIK 2 sebenarnya adalah bisnis murni dari Konglomerat Aguan dan Antoni Salim yang merupakan koorporasi yang ikut digendong oleh PSN ini.
Dampaknya cukup besar. Perampasan tanah seharga tiga bungkus nasi Padang yang harga paket 10rb-an, pengurukan sungai di desa Muncung Kronjo puluhan Kilo, kemudian yang menjadi perhatian publik nasional lagi adalah Pagar Laut yang misterius yang dianggap oleh nelayan sangat meresahkan dan membahayakan warga nelayan dalam mengais rezekinya melaut.
Menghadapi tantangan dari “logika rakyat” ini, sepertinya pihak PIK 2 tidak mampu menyakinkan publik Banten dengan “logika rakyat” yang setara.
Hal ini menyebabkan rakyat Banten semakin yakin terhadap asumsi-asumsi dan narasi-narasi yang berseliweran bahwa PIK 2 berlindung di balik PSN dan memiliki agenda tertentu yang sangat berbahaya bagi NKRI.
Padahal seandainya saja pihak PIK 2 mau berdialog dengan pikiran terbuka dan menyelesaikan masalah yang menjadi keluhan warga kemungkinan besar asumsi warga masyarakat tidak akan berkembang menjadi liar yang bisa di picu oleh pihak kepentingan dari luar.
Seperti contoh, misalnya saja, pihak pengembang harus mengakomodir kebutuhan dan memperioritaskan para nelayan lokal dengan menyiapkan perahu yang layak untuk memudahkan para nelayan mencari nafkah di laut dan kembali ke kampungnya dengan membawa hasil tangkap ikannya. Pastikan semuanya berjalan dengan aman dan penuh peri kemanusiaan sebagai sesama warga NKRI.
Selama masa inkubasi proyek PSN dan PIK 2 berjalan, tidak ada salahnya penuhi kebutuhan sehari-hari para nelayan seperti solar untuk mesin deselnya, sembako untuk bekalnya. Sedangkan untuk teknisnya bentuk wadahnya yang sederhana seperti Koperasi Nelayan.
Hasil tangkapan nelayan, ikannya cukup di jual ke PIK 1 dan PIK 2. Restoran-restoran sekitar PIK harus bisa memanfaatkan hasil tangkapan Ikan Nelayan warga sekitar.
Harga ikan naikan dari harga biasa. Berikan modal usaha lewat CSRnya PIK 2 tapi lewat koperasi. Serta
perhatikan kesehatan, pendidikan anak para nelayan. Kemudian tata kampung nelayan sedemikian rupa agar mereka merasakan dampak positif dari PSN dan PIK 2. Tapi hal tersebut diabaikan oleh PIK 2.
Menimbang Keuntungan dan Kerugian PSN PIK2
Keuntungan:
1. Meningkatkan pendapatan daerah Rp.5 Triliun
2. Menciptakan Lapangan pekerjaan OB, Security, IRT, Buruh Bangunan
Kerugian:
1. Merampas Laut sepanjang 30 KM x 1.5 KM atau 45.000.000 M2, atau Senilai Rp 1.350 Triliun (seribu tiga ratus lima puluh triliun)
2. Merampas Sempadan Pantai sepanjang 30 KM x 0.1 KM atau 3.000.000 M2 atau Senilai Rp 90 Triliun
3. Merampas akses Rakyat NKRI ke Pantai
4. Merampas zona tangkap ikan pinggir laut untuk Rakyat NKRI
5. Merampas Kali
6. Merampas Sungai
7. Menambah Pengangguran bidang Pekerjaan Nelayan, Pekerjaan Petambak, Pekerjaan Petani, Pekerjaan Penjual Ikan Pelelangan, dan Turunannya.
8. Pengawasan Bea Cukai Lumpuh karena Kapal bisa bersandar di Property Real Estate Pinggir Laut
9. Pengawasan Imigrasi lumpuh karena Akses Orang Luar langsung ke Property Real Estate Pinggir Laut
10. Merampas hutan lindung.
Jika dihitung Total Kerugian bisa mencapai Ratusan Ribu Triliun Rupiah
Jika yg diharapkan adalah Peningkatan Pendapatan Daerah sebesar Rp 5 Triliun tapi Rela mengorbankan Hak Rakyat Ratusan Ribu Triliun Rupiah. Menurut kita yang berakal waras itu adalah perbuatan Jahat dan Biadab.
Lalu kalau sudah begitu apakah PSN di kawasan PIK 2 tetap dilanjutkan? Kita tunggu jawaban nyata dari pemerintah.(red/TS/101)
editor soleh dan fitra
Views: 0







