Beranda / Trending / Orang Banten, Ilmu Banten dan Babad Banten

Orang Banten, Ilmu Banten dan Babad Banten

Tangerang (babadbanten.com). Penulis tidak menduga sama sekali. Apa yang sudah, sedang dan akan penulis lakoni ternyata melebihi ekspektasi makna yang penulis pahami.

Sebagai orang Banten adalah wajar bila penulis begitu “bangga” kepada Banten. Karena Banten merupakan tanah air tumpah pertama yang penulis pijak. Darah Banten yang mengalir dalam diri penulis merupakan sesuatu yang alamiah saja.

Ibu penulis asli, lahir dan besar di Renged Kresek Banten. Abah penulis pun lahir dan besar di Tangerang Banten. Dan penulis sendiri lahir, tumbuh dan berproses di Tangerang Banten. Bahkan pernah dididik secara khusus oleh Abah Banten.

Semuanya alamiah. Berjalan normal saja. Penulis menjalani hidup seperti yang lainnya. Tidak ada yang luar biasa. Belajar harus keras, bekerja harus keras, bahkan ketika aktif di dunia kepemudaan harus juga menerima kenyataan pahit sebagai pihak yang kalah.

Ya, tidak ada yang luar biasa. Semua “impian” yang ingin penulis capai harus penulis lakoni dengan kerja keras. Harus berjibaku. Harus bertarung. Tidak ada yang gratis. Semuanya alamiah. Berjalan sesuai hukum norma-norma kehidupan saja. Tapi siapa sangka, “kebanggaan” sebagai “orang Banten” menemukan maknanya. Dan memiliki keterkaitan erat dengan “Ilmu Banten” yang penulis lakoni berwujud makna dalam “Babad Banten”.

“Orang Banten”, “Ilmu Banten” dan “Babad Banten” merupakan satu kesatuan yang utuh.
“Orang Banten” bukan sekedar orang yang cuma berKTP Banten. Beranak pinak di Banten. Namun lebih pada makna Banten itu sendiri. Menurut penuturan seorang ‘Alim yang pernah memberikan pencerahan kepada penulis, makna Banten adalah Batin. Jiwa. Banten adalah Batin atau jiwa. Raga tanpa jiwa bagaikan Mayat Hidup yang berjalan.

Sebagai Batin atau Jiwa maka tidak berlebihan bila Banten selalu memiliki nilai strategis dan menjadi rebutan sejak zaman purba hingga sekarang.

Lebih lanjut sang ‘Alim menuturkan kepada penulis, bahwa jiwa itu akan selalu hidup dan memberikan sinarnya bila diilmui oleh Ilmu Banten. Sebab sejak zaman dulu, Banten hidup berpondasikan “Ilmu Thoriqoh”. Suatu Ilmu yang secara sanad tersambung kepada Rasululloh Saw. Jadi bila ingin membangun Banten harus dimulai dengan menghidupkan spiritualitas rakyat Banten terlebih dahulu.

Rakyat Banten memiliki memori kolektif terhadap kebesaran sejarahnya. Kesultanan Banten merupakan sebuah imperium yang sangat berkharisma. Meskipun kini yang terlihat oleh mata lahir berupa puing-puing kratonnya saja. Tapi tidak menghilangkan denyut nadi yang terus mengaliri semangat kesadaran rakyat kepada sejarah bangsanya sebagai rakyat Banten.

Dari penjelasan sang ‘Alim tersebut yang lebih mencengangkan penulis adalah tentang makna “Babad Banten” yang dipakai nama sebuah organisasi dzuriat yaitu BABAD BANTEN kependekan dari (Kerabat dan Sahabat kesultanan Banten). Menurut sang ‘Alim hal tersebut ternyata sudah tepat. Sejalan dengan makna hakikinya. Karena–menurut sang ‘Alim– Babad bermakna abadi. Sesuatu yang bersifat abadi. Tetap. Ajeg. Tidak lekang oleh waktu.

Babad bukan dimaknai sebagai episode cerita tentang peristiwa dan waktu. Karena Babad dengan makna seperti itu akan melahirkan versi. Bahkan beragam versi. Meskipun hanya satu titik peristiwa. Menurut sang ‘Alim, makna “Babad Banten” adalah sebuah makna keabadian. Siapapun yang berpegangteguh pada jalan leluhur dia pasti akan sampai. Dan jalan itu ada di “Ilmu Banten”.

Jadi ungkapan Aing Mah urang Banten, Ilmu Banten dan Babad Banten memiliki makna yang tersambung. Bukan sekedar sebuah kebanggaan lahiriah belaka. Tapi lebih dari itu merupakan bentuk kesadaran dalam dirinya akan makna hakekat sebagai Hamba Alloh swt. Dan itu artinya merupakan titik masuk menuju “Gedung Kemerdekaan”.

Dititik kesadaran inilah penulis merasakan sebuah kehormatan bisa berkiprah dan dipilih untuk “ngelakoni” hidup bersama Babad Banten. Dan ternyata itu merupakan bentuk sebuah penghormatan dari para leluhur kepada setiap anak keturunannya yang mau berjuang menegakan Marwah Kesultanan Banten dalam kehidupan sehari-hari. Amiin. (Red/TS/101)

Editor Soleh dan Fitra

Views: 0

Tag:

Tinggalkan Balasan