Oleh Tubagus Soleh
NU: Role Model Dakwah Islam Rahmatan lil Alamin
Oleh Tubagus Soleh
Tangerang (babadbanten.com). Artikel ini menawarkan Nahdlatul Ulama (NU) sebagai role model pergerakan Islam masa depan. NU memiliki keunggulan unik yang tidak dimiliki oleh organisasi lain, terutama menjelang satu abad keberadaannya. Berikut adalah beberapa alasan mengapa NU layak menjadi teladan bagi umat Islam di Indonesia dan dunia.
1. Pewaris Ideologi Aswaja dan Dakwah Walisongo
NU lahir sebagai wadah para ulama yang mempertahankan identitas diri sebagai pemegang teguh ideologi Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja). Selain itu, NU melanjutkan perjuangan dakwah para Walisongo di Jawa dan Nusantara. Sikap ini menjadikan NU sebagai penjaga tradisi Islam yang santun dan beradab.
2. Pengalaman Politik Tingkat Tinggi
Sejarah mencatat NU pernah menjadi partai politik dan terlibat dalam rezim NASAKOM era Soekarno. Keterlibatan ini memberi NU pengalaman politik tingkat tinggi. Ketika komunis mendominasi pemerintahan saat itu, kader-kader NU seperti M. Subhan menjadi motor penggerak perlawanan bersama mahasiswa dan organisasi lain seperti HMI, PII, dan GP Ansor.
3. Kembali ke Khittah 1926
Setelah runtuhnya Orde Lama, NU memutuskan untuk kembali ke Khittah 1926 pada Muktamar Situbondo 1984. Keputusan ini mengubah NU menjadi organisasi yang menjalankan politik bebas aktif, tanpa terikat pada partai politik tertentu. Meski tidak memegang kekuasaan formal, daya tawar NU semakin kuat.
NU menjadi ormas pertama yang menerima Pancasila sebagai satu-satunya asas bagi parpol dan ormas. Langkah ini menunjukkan kedewasaan politik NU dalam menjaga stabilitas bangsa.
4. Pengayom Kaum Lemah dan Minoritas
NU dikenal sebagai organisasi yang mengayomi kaum lemah dan minoritas. Sikap ini lahir dari nilai-nilai Rahmah yang diajarkan di pesantren. NU mencontohkan dakwah yang penuh kesantunan dan adab, membuat siapa pun merasa aman berada di “rumah besar” NU.
5. Pendekatan Dakwah yang Inklusif
Sebagai pengamal Aswaja, NU memiliki fleksibilitas tinggi dalam berdakwah. NU tidak menghakimi atau menghujat, melainkan mengajak dan merangkul. Contohnya adalah langkah Gus Dur yang mengakui Konghucu sebagai agama resmi dan menjadikan Tahun Baru Imlek sebagai hari libur nasional. Pendekatan ini mencerminkan sikap inklusif yang memperkuat persatuan bangsa.
6. Dialog dengan Berbagai Kelompok
NU mampu berdialog dengan semua kelompok, bahkan dengan Zionis Israel. Sikap ini menunjukkan keberanian luar biasa. Kader-kader NU membuktikan bahwa kaum pesantren siap bersaing dalam pergulatan pemikiran dunia. Mereka menjadi contoh bagaimana nilai Rahmah diterapkan dalam dialog global.
7. Pembenahan Internal dan Pengkaderan
Saat ini, NU melakukan pembenahan serius di semua lini organisasi. Pengkaderan secara rutin dilakukan oleh badan otonom (banom) seperti GP Ansor. Di sisi lain, pesantren yang berafiliasi dengan NU terus meningkatkan kualitas dan militansi kadernya.
Proses ini memungkinkan mobilitas vertikal kader NU dari pedesaan ke perkotaan. Dengan bekal ilmu agama yang mumpuni, generasi muda NU siap berkontribusi dalam dinamika sosial dan politik Indonesia.
8. Eksistensi NU di Kancah Dunia
NU kini telah merambah dunia internasional. Di Afghanistan, NU bahkan diakui sebagai organisasi pribumi. Sebagai “Madrasah Aswaja Dunia,” NU menjadi rujukan bagi siapa pun yang ingin mempelajari Islam damai dan toleran.
9. Perekat Bangsa Indonesia
Sebagai pewaris perjuangan Walisongo, NU memiliki tugas menjaga keharmonisan bangsa. NU mendukung keberagaman budaya yang menjadi kekayaan Indonesia, sesuai amanat pembukaan UUD 1945.
Kesimpulan
NU adalah model perjuangan umat Islam yang mengedepankan toleransi, kesantunan, dan nilai-nilai rahmatan lil alamin. Dengan semangat ini, NU berperan besar dalam mewujudkan Indonesia yang baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur.
Penulis adalah Ketum Pucuk Umum BABAD BANTEN
Views: 0







