Luxemberg, Disini Kekayaan Nusantara disimpan?
Oleh Safari Ans
Kekayaan Nusantara banyak disimpan di negara ini. Saya kesana tahun 2005, dibawa oleh Tim Shrouder (Belanda). Saya dibawa ke ruang bawah tanah seluas 3 kali lapangan bola. Isinya komputer bank dan keuangan dunia. Lalu, ketua tim yang berbangsa Yahudi yang membawa saya bercerita. “Disinilah keuangan dan perbankan yang berkait dengan Nusantara tercatat dengan baik disini. Catatan putih, abu-abu, dan hitam, semua tercatat di sini”.
Salah satu bank terbanyak yang menyimpan keuangan investasi Global Nusantara itu berada di Deutsche Bank (DB). Deutsche Bank adalah bank investasi dan jasa keuangan multinasional yang berkantor pusat di Frankfurt, Jerman. Di Indonesia, Deutsche Bank beroperasi sebagai bank korporasi dan investasi.
Akhir Desember lalu, DB pernah melakukan tiga kali swift MT103 ke BNI. Satu swift senilai Euro 47 triliun (Empat puluh tujuh triliun Euro) ke tiga perusahaan yang berbeda. Tentu saja ini ulah para bankir yang mencoba mencairkan aset Nusantara di DB. Bahkan teman saya yang menjadi konsultan internasional yang bermukim di Tokyo menangis minta tolong agar pengiriman uang itu dilancarkan karena PBB terlibat untuk menjalankan berbagai humatarian program. Tapi begitu saya cek di PBB, tidak ada program tersebut. Ketiga swift MT103 €47 triliun itu diblock oleh sistem komputer amanah Nusantara.
Akibat banyak kenakalan para bankir dunia. Anak Dewa kemudian mengunci seluruh sistem keuangan dan perbankan yang berkait dengan aset Nusantara. Kini dunia gelisah. Bahkan banyak negara diambang kebangkerutan. Bahkan perusahaan-perusahaan besar yang selama ini menggunakan aset Nusantara (baca: orang tua) juga ikut terkunci, sehingga likuiditas perusahaan terganggu. Akibat berbagai negara kesulitas likuiditas juga termasuk AS, Indonesia, dan seluruh negara yang berkait dengan aset Nusantara. Perusahaan-perusahaan besar ikut terkena imbas. PHK pun tak terhindarkan. Saat ini, seluruh dunia mengalami kesulitan likuiditas keuangan. Dan akan berkepanjangan apabila tidak dilakukan negosiasi ulang dengan Anak Dewa. Indonesia pun juga perlu negosiasi ulang dengan Anak Dewa kalau mau selamat dari kebangkerutan dan PHK massal berkelanjutan. Salam Safari Ans.
Editor : Soleh Muda
















