Menu

Mode Gelap
Thoriqot, Pilar Utama Pergerakan BABAD BANTEN Inkompentensi Pejabat Sangat Membahayakan Bagi Masa Depan Bangsa Belajar dari Pohon Bambu Pondok Pesantren Modern Daarul Muttaqien : Melahirkan Alumni Hebat FILSAFAT RASA: Menemukan Kembali Organ Pengetahuan Nusantara

Berita · 29 Jan 2025 10:53 WIB ·

Kopi Jawa : Dari Ladang Priangan ke Cangkir Orang Eropa


 Kopi Jawa : Dari Ladang Priangan ke Cangkir Orang Eropa Perbesar

Jakarta (babadbanten.com). Jangan heran kalau dengar kata Java atau kopi Jawa muncul di mana-mana, dari kafe kece di Paris sampai nama program komputer terkenal. Kok bisa? Ya, semua ini berawal dari “kegilaan” orang Eropa akan kopi yang asal-usulnya nggak bisa dipisahkan dari tanah Priangan, Jawa Barat.

Tapi di balik itu, ada cerita kelam tentang peras-memeras ala kolonial VOC dan tanam paksa.

Kopi Priangan dan Keserakahan VOC

Kopi pertama kali masuk ke Nusantara sekitar akhir abad ke-17, dibawa oleh Belanda. Awalnya, kopi ini ditanam kecil-kecilan, tapi VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie) yang melihat peluang emas nggak mau diam aja.

Mereka sadar kopi punya nilai jual yang luar biasa di Eropa. Nah, daerah Priangan di Jawa Barat dipilih karena iklim dan tanahnya cocok banget buat tanam kopi.

Tapi di sinilah tragedi dimulai. Petani-petani lokal dipaksa kerja rodi untuk menanam kopi. Bukan cuma wajib tanam, hasil panennya pun harus diserahkan ke VOC dengan harga yang nggak masuk akal alias super murah. Sementara, VOC menjual kopi Priangan ke Eropa dengan harga fantastis. Petani? Tinggal gigit jari.

Tanam paksa ini terus berlanjut selama berabad-abad, bahkan sampai ke masa Cultuurstelsel (Sistem Tanam Paksa) di abad ke-19. Hasilnya? Kopi Jawa jadi primadona di pasar dunia, sementara rakyatnya menderita. Ironis banget, kan?

Yang unik dari kopi Jawa, khususnya di Priangan, adalah cara pengolahan bijinya yang nggak biasa.

Konon, para petani dulu mengupas kulit biji kopi dengan mulut mereka—ya, dikunyah langsung! Meskipun terdengar aneh, proses ini ternyata diyakini punya peran penting dalam cita rasa kopi Jawa.

Beberapa orang percaya, air liur manusia ikut membantu proses fermentasi alami yang bikin kopi Jawa punya rasa khas yang nggak bisa ditiru kopi lain.

Mungkin, ini juga salah satu alasan kenapa kopi Jawa jadi begitu istimewa di lidah orang Eropa. Rasanya yang “otentik” dan prosesnya yang unik membuat kopi Priangan seakan punya jiwa tersendiri.

Demam Kopi Jawa di Eropa

Begitu kopi Jawa sampai di Eropa, langsung disambut bak selebritas. Rasanya yang khas dan kualitasnya yang top bikin orang-orang Eropa ketagihan.

Bahkan, kata “Java” jadi sinonim kopi berkualitas. Bayangkan, saking terkenalnya, di mana-mana mulai muncul kedai-kedai kopi dengan nama Java atau Café Java. Di Paris, London, Amsterdam—semua ikut-ikutan tren ini.

Minum kopi bukan cuma soal rasa, tapi juga gaya hidup. Nongkrong di kafe sambil ngopi jadi kebiasaan kelas menengah dan atas. Nah, tren inilah yang bikin budaya kafe menjamur di Eropa. Semua berkat kopi dari Jawa.

Dari Cangkir ke Layar Komputer

Lucunya, kegilaan akan kopi Jawa ini bahkan merambah ke dunia teknologi. Pernah dengar bahasa pemrograman Java? Kok namanya kopi?

Ceritanya, si pencipta Java, James Gosling, adalah penggemar berat kopi Jawa. Saat mencari nama untuk bahasa pemrograman baru ciptaannya di tahun 1995, dia dan timnya terinspirasi dari secangkir kopi favorit mereka: kopi Java.

Jadilah simbol logo Java berupa cangkir kopi berasap. Unik, ya? Dari tanam paksa di Priangan, kopi ini malah jadi nama teknologi yang kita pakai sehari-hari.

Kopi Jawa, Sebuah Paradoks

Kalau dipikir-pikir, kopi Jawa adalah simbol paradoks sejarah. Di satu sisi, kopi ini adalah kebanggaan karena kualitasnya mendunia dan namanya melekat erat dalam sejarah kopi global. Tapi di sisi lain, ada cerita pilu tentang rakyat yang diperas oleh kolonialisme demi kopi yang dinikmati orang asing.

Jadi, lain kali kalau kamu ngopi di kafe dengan nama Java atau nyeruput kopi Jawa di pagi hari, ingatlah secuil sejarah pahit di balik rasa nikmat itu.

Sebuah pengingat, bahwa di balik kesuksesan global, ada jerih payah tangan-tangan kecil yang jarang mendapat apresiasi. Kopi Jawa bukan cuma sekadar minuman, tapi juga warisan sejarah yang pahit-manis.(red/ts1010)

Sumber : IWD dan WAG DEKKAN

Artikel ini telah dibaca 11 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Thoriqot, Pilar Utama Pergerakan BABAD BANTEN

4 Desember 2025 - 23:04 WIB

Inkompentensi Pejabat Sangat Membahayakan Bagi Masa Depan Bangsa

4 Desember 2025 - 03:46 WIB

Belajar dari Pohon Bambu

4 Desember 2025 - 02:35 WIB

Pondok Pesantren Modern Daarul Muttaqien : Melahirkan Alumni Hebat

3 Desember 2025 - 06:27 WIB

FILSAFAT RASA: Menemukan Kembali Organ Pengetahuan Nusantara

3 Desember 2025 - 04:32 WIB

Untuk Apa Banyak-banyak Kawan

3 Desember 2025 - 03:51 WIB

Trending di Berita