Catatan Sufi Syeikh Tubagus Fahman Arafat,Rois JATMAN Wustho Banten
Banten (babadbanten.com). Pada saat Krakatau meletus pada tahun 1883 Syeikh Asnawi berusia 43 Tahun. Dari catatan keluarga, Syeikh Asnawi Caringin lahir pada tahun 1840 Masehi wafat tahun 1937, delapan Tahun menjelang hari kemerdekaan Bangsa Indonesia, yaitu tahun 1945.
Menurut kabar dari pemberitaan, letusan ini terjadi di Hindia Belanda (sekarang Indonesia) dan merupakan salah satu gunung berapi paling mematikan dan sangat merusak dalam sejarah. Letusannya berdampak besar pada wilayah di sekitar Krakatau dan menyebabkan setidaknya 36.417 korban jiwa akibat letusan dan tsunami yang dihasilkan.
Syeikh Asnawi dan keluarga selamat, dan mengungsi ke atas daerah pegunungan yang bernama kampung muruy yang terletak di kecamatan jiput dan menes. Di kampung muruy itu Syeikh Asnawi menikah dengan isteri keempatnya yang bernama Nyai Salfah.
Namun ada satu keajaiban ketika Gunung Krakatau Meletus, yaitu makam Syeikh Mahdi yang terletak dekat pantai tidak terpengaruh sedikitpun, karena diceritakan air laut yang menghempas ke daratan hanya berputar-putar di sekeliling makam Syeikh Mahdi.
Waktu itu ada beberapa nelayan yang menyaksikan seorang yang bertubuh tinggi besar ada di dekat gunung Krakatau, satu kaki berada di gunung Krakatau dan satu kaki lagi ada di lautan (ada yang mengatakan itu jin suruhan Syeikh Asnawi Caringin).
Syeikh mahdi adalah buyutnya Syeikh Asnawi caringin, karena Syeikh Asnawi Caringin bin Syeikh Abdurrahman bin Syeikh Afifuddin bin Syeikh Mahdi. Dan di tahun 2018 keajaiban makam Syeikh Mahdi terulang kembali, di saat anak gunung Krakatau mengalami erupsi kembali. Dimana pada waktu itu makam Syeikh Mahdi yang berada sangat dekat dengan bibir pantai tidak terkena air laut, dan hanya mengelilingi makam Syeikh Mahdi.
Digambarkan pada waktu itu ombak sudah terbelah di tengah laut dan hanya mengenai daerah-daerah sekitaran caringin tempat Syeikh Asnawi dan buyut-buyutnya sekarang dimakamkan. Peristiwa tersebut disaksikan oleh beberapa orang yang saat itu, ada orang-orang yang berjubah putih sedang berdiri di sepanjang garis pantai caringin, seolah-oleh mereka menjaganya. Dan ada beberapa peziarah yang sedang berziarah memberikan kesaksian mereka didatangi langsung oleh orang yang berjubah untuk segera meninggalkan tempat mereka. Wallohu’alam.
editor soleh dan fitra
















