Catatan Sufi Syeikh Tubagus Fahman Arafat, Rois JATMAN Wustho Banten
Banten (babadbanten.com). Carilah guru yang seperti penyu karena setelah dia bertelur, dia tinggalkan telur-telurnya di dalam pasir di tepian pantai yang halus dan lembut.
Kemudian dia berenang kembali ke tengah samudera seperti biasa. Tapi aneh bin ajaib, telur-telurnya yang dia tinggalkan di tepian pantai, dan di dalam pasir menetas dengan sempurna. Lalu kemudian setelah menetas, mereka anak-anak penyu yang lucu-lucu dan menggemaskan setiap mata yang memandang, mereka berenang bersama-sama ke samudera yang maha luas, mencari induknya yang telah menelurkannya ke alam yang begitu luas, seluas mata yang memandang.
Seorang guru yang haqiqi dia mendidik murid-muridnya seperti penyu, bukan dengan nafsunya tapi dengan ahwaal robbaani. Demikianlah kuasa Alloh Sang Pencipta, Dia menetaskan telur-telur penyu itu tanpa campur tangan induknya. Induknya hanya sebatas pelantara untuk menelurkan telur-telurnya.
Belajar dari Sang Penyu ini, seorang murid itu setelah guru tiada, jangan ada yang berkata ‘seperti ayam kehilangan induknya’, karena telur ayam mesti dierami sepanjang waktu sampai menetas, dan itu pun belum tentu menetas seluruhnya. Tapi lihatlah telur-telur penyu itu, ketika induknya tiada, maka Alloh sebagai wakilnya. Dan ketika ada, induknya itulah yang menjadi wakilNya. Wallohu’alam.
editor soleh dan fitra
















