Banten Bangkit Benahi Diri. Sebuah dialektika Peringatan 500 Tahun Kesultanan Banten
Oleh Maman Fathurochman
Banten, Sabtu 01/03/2025 (babadbanten.com). Membuat tema peringkatan tidaklah dibuat dengan mudah dan asal begitu saja apalagi mengikuti pemikiran segelintir orang saja, tema akan mencerminkan konsep apa yang hendak dibangun dan apa yang akan dilakukan, begitu pula dengan memperingati 500 Tahun Kesultanan Banten.
Apakah dalam bingkai budaya atau bingkai Negara Kesatuan Indonesia? Harus dicermati secara seksama, jangan mengada2kan acara yang justru akan disusupi oleh kepentingan segelintir orang tertentu yang memiliki indikasi kekuasaan dan memisahkan diri dari NKRI. Masyarakat cerdas akan mudah dalam membaca arah pergerakan terhadap bentuk kegiatan yang hanya dilakukan oleh sejumlah orang tertentu.
Bagi kami, Kesultanan Banten adalah milik semua masyarakat Banten termasuk para dzuriyyat dan keluarga besar para pejuang yang mendirikan Kesultanan Banten meski saat ini secara the facto sudah tidak ada lagi bentuk Kesultanan Banten dan sudah tidak ada lagi Sultan yang diangkat secara sah dan meyakinkan semua komponen masyarakat yang mencakup wilayah Banten.
Alangkah indahnya jika peringatan Kesultanan Banten tidak mempersonifiasikan orang2 tertentu yang seakan2 paling top paling wah dan paling mewakili Banten, namun kenyataannya jauh panggang dari api.
500 tahun lalu di wilayah Banten didirikan sebuah Kerajaan dan kemudian berganti dengan nama Kesultan yang semata2 bertujuan untuk penyebaran ajaran Ketauhidan yang diajarkan oleh kalangan Muslim yang saat itu sedang gencar2nya dilakukan oleh para penyebar Agama Islam yang dibawa para Wali di Nusantara.
Banten awalnya merupakan salah satu dari pelabuhan kerajaan Sunda. Pelabuhan ini direbut 1525 oleh gabungan dari tentara Demak dan Cirebon. Setelah ditaklukan daerah ini diislamkan oleh Sunan Gunung Jati. Pelabuhan Sunda lainnya yang juga dikuasai Demak adalah Sunda Kelapa, dikuasai Demak 1527, dan diganti namanya menjadi Jayakarta.
Berkembangnya kerajaan Banten tidak terlepas dari peranan raja-raja yang memerintah di kerajaan tersebut. Untuk memantapkan pemahaman Anda tentang raja-raja yang memerintah di Banten, berikut silsilah Raja-raja Banten sampai dengan Sultan Agung Tirtayasa: Sultan Hasannudin (1552-1570), Maulana Yusuf (1570-1580), Maulana Muhammad (1580-1596), Sultan Abulmufaki (1596-1640), dan Sultan Ageng Tirtayasa (1651-1672) dan periode selanjutnya para Sultan dipilih dengan campur tangan VOC dan Kerjaaan Belanda hingga tahun 1883 Kesultanan Banten resmi dibubarkan oleh penjajah.
Dalam perkembangan politiknya, selain Banten berusaha melepaskan diri dari kekuasaan Demak, Banten juga berusaha memperluas daerah kekuasaannya antara lain Pajajaran. Dengan dikuasainya Pajajaran, maka seluruh daerah Jawa Barat berada di bawah kekuasaan Banten. Hal ini terjadi pada masa pemerintahan raja Panembahan Yusuf.
Memasuki masa kemerdekaan Indonesia, pada tahun 1953, untuk pertama kalinya dimunculkan keinginan masyarakat Banten untuk meningkatkan status wilayahnya dari Karesidenan menjadi provinsi sendiri yang terpisah dari Jawa Barat. Keinginan ini muncul berkaitan dengan diberikannya status Daerah Istimewa Yogyakarta dan munculnya tuntutan yang sama dari Aceh. Masyarakat Banten merasa bahwa Banten juga memiliki keistimewaan, yaitu tidak pernah menyerah kepada Belanda, pernah berdiri sendiri karena diblokade Belanda sampai mengeluarkan mata uang sendiri pada tahun 1949 (Michrob dan Chudari, 1993 : 284). Hanya saja keinginan ini tidak dapat tanggapan serius.
Namun, semangat Ke-Bantenan menjadikan wilayah Banten sebagai Provinsi baru ke-30 sebagaimana saat itu diceritakan tidak dapat dibayangkan betapa gembiranya masyarakat Banten ketika akhirnya Provinsi Banten yang diperjuangkan itu lahir sudah. Para tokoh pejuang Banten berangkulan, bersalaman sambil mengucapkan “Selamat”, bahkan ada yang menitikkan air mata keharuan. Ribuan rakyat Banten histeris sambil memekik “Allaahu Akbar!”, “Hidup Propinsi Banten!”, “Hidup DPR!”. Para ulama memanjatkan doa, dan bersujud syukur di pelataran Gedung DPR RI yang megah itu. Ketua Umum Bakor-PBB Tb. Tryana Sjam’un berkomentar: “Hidup Provinsi Banten!” “Hidup DPR”. Para ulama memanjatkan do’a, dan bersujud syukur di pelataran Gedung DPR RI yang megah itu. Ketua Umum bakor-PBB Tb. Tryana Sjam’un berkomentar: “Kita semua masyarakat banten patut bersyukur kepada Allah SWT. karena hari ini, Rabu 4 Oktober 2000, perjuangan kita yang sudah lama dicita-citakan diterima baik oleh wakil rakyat di DPR RI dan ini berarti Provinsi Banten telah lahir dengan selamat…” (Mansur, 2001:356, wawancara dengan Tb. Tryana Sjam’un).
Dengan berbagai fase sejarah dan peristiwa, Banten memiliki perkembangan yang dinamis, sehingga bagi saya Maman Fathurochman yang sedikit banyak terlibat dalam pembentukan provinsi Banten, di angka 500 tahun masih ada sebuah harapan untuk menjadikan Banten sebagai Daerah Istimewa dan sebagai Mercusuar Dunia, pusat perkembangan peradaban Nusantara dan Islam yang Rahmatan Lil’alamin. Sehingga tidak ada kelompok elit yang bisa mengklaim paling Banten dibanding dengan masyarakat Banten lainnya yang bisa saja ada orang Banten yang juga mengalir darah ke-Bantenan-nya memiliki potensi untuk membuat Banten menjadi lebih besar dari sejarah masa lalu dan menciptakan sejarah Bang yang gilang gemilang untuk masa mendatang.
Editor : Soleh Muda
Views: 0







