Menu

Mode Gelap
Thoriqot, Pilar Utama Pergerakan BABAD BANTEN Inkompentensi Pejabat Sangat Membahayakan Bagi Masa Depan Bangsa Belajar dari Pohon Bambu Pondok Pesantren Modern Daarul Muttaqien : Melahirkan Alumni Hebat FILSAFAT RASA: Menemukan Kembali Organ Pengetahuan Nusantara

Agama Islam · 26 Nov 2025 00:55 WIB ·

APAKAH BERBEDA ITU BERMUSUHAN ?


 Ki Saadulloh Ketua III PW JATMA ASWAJA Banten Perbesar

Ki Saadulloh Ketua III PW JATMA ASWAJA Banten

APAKAH BERBEDA ITU BERMUSUHAN ?

Tangerang, Rabu,26/11/2025 (babadbanten.com).

Pitutur Gus Mus :
‘Atheis dimusuhi karena tidak bertuhan. Bertuhan dimusuhi karena Tuhannya beda. Tuhannya sama dimusuhi karena nabinya beda. Nabinya sama dimusuhi karena alirannya beda.
Alirannya sama dimusuhi karena pendapatnya beda. Pendapatnya sama dimusuhi karena partainya beda. Partainya sama dimusuhi karena pendapatannya beda.

Apa kamu mau hidup sendirian di muka bumi untuk memuaskan nafsu keserakahan?’Bagaimana berdemokrasi kalau takut perbedaan ?

Berbeda pendapat. Beda pilihan. Beda cara tafsir. Beda partai. Beda idola. Tentu, bukan soal benar atau salah. Tapi soal rasa dan pikir yang ada pada diri kita “dipandang” dari sisi yang berbeda. Kita memang tidak sama. Sekali lagi, tidak sama. Maka jalanilah. Karena selalu ada dua sudut pandang di dekat kita, di sekitar kita.

Masih banyak orang yang begitu sempit pikirannya, menganggap sebuah perbedaan (sikap, pendirian juga pandangan) itu sebuah permusuhan (beda = musuh). Apalagi sampai harus memaksakan keyakinannya dengan mengacung-acungkan pedang. Yang nggak sama dengan pandangan hidupnya adalah kafir!
Itulah salah satu kesalahan umat manusia, mencari kebenaran sejati dengan mengharuskan orang lain sama persis dengannya.

Jadi tak perlu malu atau takut berbeda. Ber-opinilah walau mungkin akan dianggap aneh atau gila. No problem, minimal kamu punya pendirian, ketangguhan dan kedaulatan. Nggak plin plan atau jadi bunglon dengan dasar keyakinan yang bisa dipertanggung jawabkan secara norma yang ada . Jika ada yang reseh dan memancing perdebatan, nggak perlu ditanggapi serius. Ilmu (kepandaian) tidak untuk adu debat atau pamer. Silakan dianggap fallacy, karena tak ada kebenaran yang mutlak. Kebenaran adalah kesepakatan. Tergantung siapa dan dimana. Tapi bukan berarti terus jadi Skeptis atau Ahmaq (bahasanya Ustadz).

Teringat pitutur Cak Nun :

“Ada baiknya mulailah menghitung ulang kebenaran-kebenaran yang anda kenal. Kadang-kadang yang anda kenali sebagai agama itu tafsir agama, norma yang ditafsirkan. Dan itu bukan agama. Yang anda tahu mebel (meja kursi) itu bukan pohon. Yang harus kamu temukan adalah pohonnya. Supaya kamu bisa paham bahwa pohon itu bisa menjadi meja kursi. Sekarang banyak ustadz datang memperkenalkan kursi sebagai pohon.”

Kebanyakan kebenaran yang ada sekarang adalah kebenaran tafsir. Nggak ada yang 100% benar. Ibarat, Orang Amrik menyebut bunyi pistol itu : “Bang!”, orang Jakarta menyebutnya: “Dor!”, kalau Orang Jogja : “Mak der!”, sedang orang Banten “Duarrr!”. Dan itu semuanya salah! Yang benar adalah menghadirkan sebuah pistol, ditembakan, dan bersama-sama mendengar bunyi pistol tersebut.

Hidup juga jangan menurut tokoh ini, menurut ilmuwan itu, menurut kyai, menurut ustadz atau siapa pun. Hidup itu menurut Allah dan Rasulullah (bagi yang muslim seperti saya). Walau lewat wacana kyai, tokoh atau ilmuwan itulah kamu menemukan kebenaran. (10155)

Semoga bermanfaat.

Ki Saadulloh, Ketua III PW JATMA ASWAJA Banten Masa Khidmat 2025 sd 2030

Editor : TubagusS

Artikel ini telah dibaca 19 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Thoriqot, Pilar Utama Pergerakan BABAD BANTEN

4 Desember 2025 - 23:04 WIB

Inkompentensi Pejabat Sangat Membahayakan Bagi Masa Depan Bangsa

4 Desember 2025 - 03:46 WIB

Belajar dari Pohon Bambu

4 Desember 2025 - 02:35 WIB

Pondok Pesantren Modern Daarul Muttaqien : Melahirkan Alumni Hebat

3 Desember 2025 - 06:27 WIB

FILSAFAT RASA: Menemukan Kembali Organ Pengetahuan Nusantara

3 Desember 2025 - 04:32 WIB

Untuk Apa Banyak-banyak Kawan

3 Desember 2025 - 03:51 WIB

Trending di Berita