Beranda / Trending / Benar Kata Gus Dur, TUHAN tidak perlu dibela

Benar Kata Gus Dur, TUHAN tidak perlu dibela

Benar Kata Gus Dur, TUHAN tidak perlu dibela

Tangerang, Rabu 28/01/2026 (babadbanten.com)

“Guru, apa yang harus aku lakukan untuk Membela TUHAN jika ada orang yang melecehkanNya.?”

”hei… Zaed nganu, kau hanyalah makhluk kecil di banding semesta raya yang tak terbatas ini, dan Tuhan adalah Penguasa seluruh semesta. Apa yang bisa kau lakukan untuk membela’Nya Hyang Maha Besar itu.”, Ucap Sang Guru.

”Ketahuilah Zaed, Jiwamu adalah percikan Tuhan yang memberi hidup pada semesta kecil, tubuh yang kau tempati. Maka cukuplah Bagimu untuk Membela Tuhan dalam dirimu saja. Jangan biarkan pikiran, kata-kata, sikap dan tindakanmu sendiri melecehkan dan menghina keberadaan’Nya dalam dirimu. Saat kau menyakiti orang lain, kau sesungguhnya sedang melecehkan Tuhan sebagai Jiwa dalam diri orang itu. Ajari pikiranmu menciptakan kata-kata, sikap dan tindakan yang penuh Empati dan Cinta Kasih, karena itulah cara terbaik menjaga kehormatan Tuhan sebagai sumber cinta kasih didalam dirimu.”Ujar Sang Guru Bijak

Menjadi Bijak itu Lebih Menantang dibanding Menjadi Baik,kau Hanya akan dianggap Baik Hanya dengan yang Sepaham denganmu.

Tetapi engkau akan dianggap Jahat bagi yang berlawanan dengan sikapmu. Tapi Menjadi “Bijak”, kau akan merangkul Semua pihak, kau akan merangkul semua pihak, kau mengetahui latar belakang mereka masing-masing dan memahaminya dengan Rasamu.  Dan Percayalah Menjadi Bijak itu Mendamaikan dirimu sendiri. Karena kau Tidak Sibuk Mencari Benar dan Salah dan Kemudian Menghakimi Mereka. Tetapi Kau akan disibukkan Menebar ‘Cahaya’ Cinta Kasih diantara Mereka.

Begitulah Wahai anakku…

Engkau menyakitiku dan Aku mampu membalasnya Jika Aku mau, Tapi itu Tidak Kulakukan, adapun karena Aku melihat diriku sendiri didalam dirimu, oleh karena itulah aku tak mampu menyakitimu. Mungkin engkau tak mengetahui karena mengira dirimu adalah sebatang Tubuh belaka, Tapi Aku mengerti bahwa tidak ada perbedaan antara Engkau, Aku dan Tuhan. Karena Engkau dan Aku adalah jiwa dari bagian yang Maha Jiwa itu sendiri.

Wahai anakku..

Hakikat engkau dan aku adalah dari Sumber yang Satu, seumpama engkau adalah cahaya Timur, dan Aku adalah Cahaya dibarat, yang mana sumber cahaya itu adalah dari matahari itu sendiri. Engkau dan Aku adalah Cahayanya, dan Dialah yang mempunyai cahaya itu, Lalu apa perbedaannya antara Engkau dan Aku? Tidak ada!

Seperti itulah umpamanya agar Engkau mengerti. Inilah Hikmah kenapa Setiap ajaran dalam Agama menganjurkan kepada para penganutnya untuk saling baku PEDULI, baku SAYANG dan baku CINTA. Bukan baku HANTAM, karena bila engkau menyakiti seseorang saja, maka engkau takkan pernah merasakan ketenangan yang Sejati, karena Hakikatnya engkau telah menyakiti dirimu sendiri.

Wahai anakku…

Mencintai tak butuh ALASAN karena cinta adalah suara “Ruh” yang sunyi dari keriuhan kata, sedangkan membenci butuh banyak alasan dan pembenaran, karena kebencian adalah suara “Nafsu” yang senantiasa ramai oleh gerutu.

Dalam Cinta segala perbedaan akan menyatu, karena itulah ‘Hakikat” Ruh Tunggal adanya, meskipun dalam Wujud dan Busana yang berbeda.

Didalam Kebencian Mata Hatimu Buta oleh perbedaan-perbedaan Wujud dan Busana, Sehingga Engkau Lupa Bahwa segala sesuatu Hakikatnya Tunggal AdaNya.

Wahai anakku…

Bacalah hakikat Dasar negara kita PANCASILA. Yaitu (PAN)caran CAhaya (nur) Seluruh Isi aLAm.

Mari kita dedar wahai anakku…

Pertama, Nur Allah

Berisi Nilai Nilai KETUHANAN YANG MAHA ESA

Inilah TAUHID yang sebenarnya tanpa terkotak kotak atau tersekat- sekat oleh SUKU, AGAMA, RAS, ADAT ISTIADAT, KEPERCAYAAN ataupun KEYAKINAN. Semua SATU dalam PERBEDAAN ( BHINEKA TUNGGAL IKA ) semua sama di Hadapan Tuhan YME. Hanya IMAN di dalam DADA yang membedakan KETAQWAAN SEORANG IHSAN MANUSIA di HADAPAN TUHAN YME.

Kedua, Nur Muhammad

Berisi Nilai Nilai KEMANUSIAAN YANG ADIL dan BERADAB

Muhammad adalah Suri Tauladan sekaligus Sebagai Maha Guru yang mengajarkan MANUSIA untuk ber AKHLAK dan bertingkah laku yang MULIA terhadap sesama dan terhadap semua MAKHLUK seisi ALAM SEMESTA.

Ketiga, Nur Rosulullah

Berisi Nilai-Nilai Persatuan Yang Universal

Karena Muhammad Rosulullah SAW Lah yang dapat menyatukan TIMUR dan Barat, Utara dan Selatan, Timur Laut dan Tenggara, Barat Laut dan Barat Daya, DUDUK SAMA RENDAH, BERDIRI SAMA TINGGI atas dasar PERSAUDARAAN.

Keempat, Nur Alam

Berisi Nilai-Nilai Kerakyatan yang dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan Perwakilan

Karena Alam Semesta baik itu ALAM SEMESTA DI DALAM DIRI maupun ALAM SEMESTA DI JAGAD RAYA terdiri dari Ribuan, Jutaan bahkan Milyaran Galaxy dan Sistem Tata Surya maka di perlukan wakil wakil Penguasa   (Khalifah) untuk memimpin masing masing GALAXY dan SISTEM TATA SURYA tersebut atas DASAR MUSYAWARAH MUFAKAT dalam memilih PEMIMPIN Yang diMaksud ( DEMOKRASI ).

Kelima, Nur Aku

Berisi Nilai-Nilai Keadilan Sosial Yang Universal

Karena AKU adalah PENGEJEWANTAHAN  WAKIL ALLAH / KHALIFAH ALLAH YANG NYATA di MUKA BUMI maka AKU seyogyanyalah menjadi SEORANG PEMIMPIN YANG ADIL ARIF dan BIJAKSANA atas DASAR BERAT SAMA DIPIKUL RINGAN SAMA DIJINJING ( GOTONG ROYONG ) untuk mewujudkan tatanan DUNIA BARU YANG ADIL MAKMUR dan SEJAHTERA LAHIR MAUPUN BATHIN.

Ada Cinta didalam Tuhan.
Ada Tuhan didalam Cinta.
Cinta Itu Tuhan.
Tuhan itu Cinta.

Apa yang dihasilkan Cinta? Kedamai’an.

Apa yang dihasilkan Kebencian? “Penderitaan”.

Dan Kalian Bebas Memilihnya…

Editor : Tubagus XVII

 

Views: 5

Tag:

Tinggalkan Balasan