๐๐๐ค๐ฎ๐๐ฌ๐๐๐ง ๐๐๐ง๐ฉ๐ ๐๐๐ง๐ฒ๐ฎ๐๐ข๐๐ง ๐๐ข๐ฐ๐, ๐๐๐ง๐๐๐ญ๐๐ค ๐๐ข๐ซ๐๐ง ๐๐๐ซ๐ฎ ๐๐๐ซ๐ข ๐๐๐ฎ๐ฆ ๐๐๐ซ๐ญ๐ข๐ง๐๐๐ฌ
Tangerang, Kamis 22/01/2026 (babadbanten.com).
ููููุฑููุฏู ุฃููู ููู ูููู ุนูููู ุงูููุฐูููู ุงุณูุชูุถูุนููููุง ููู ุงููุฃูุฑูุถู ููููุฌูุนูููููู ู ุฃูุฆูู ููุฉู ููููุฌูุนูููููู ู ุงููููุงุฑูุซูููู
๐๐๐ง ๐๐๐ฆ๐ข ๐ก๐๐ง๐๐๐ค ๐ฆ๐๐ฆ๐๐๐ซ๐ข ๐ค๐๐ซ๐ฎ๐ง๐ข๐ ๐ค๐๐ฉ๐๐๐ ๐จ๐ซ๐๐ง๐ -๐จ๐ซ๐๐ง๐ ๐ฒ๐๐ง๐ ๐ญ๐๐ซ๐ญ๐ข๐ง๐๐๐ฌ ๐๐ข ๐๐ฎ๐ฆ๐ข ๐ข๐ญ๐ฎ ๐๐๐ง ๐ก๐๐ง๐๐๐ค ๐ฆ๐๐ง๐ฃ๐๐๐ข๐ค๐๐ง ๐ฆ๐๐ซ๐๐ค๐ ๐ฉ๐๐ฆ๐ข๐ฆ๐ฉ๐ข๐ง ๐๐๐ง ๐ฆ๐๐ง๐ฃ๐๐๐ข๐ค๐๐ง ๐ฆ๐๐ซ๐๐ค๐ ๐จ๐ซ๐๐ง๐ -๐จ๐ซ๐๐ง๐ ๐ฒ๐๐ง๐ ๐ฆ๐๐ฐ๐๐ซ๐ข๐ฌ๐ข (๐๐ฎ๐ฆ๐ข).
Sesungguhnya ayat mulia ini tidak berbicara tentang janji sejarah yang berlalu begitu saja, bukan pula tentang perpindahan kekuasaan secara mekanis dari tangan ke tangan, melainkan melukiskan ๐ฎ๐ง๐๐๐ง๐ -๐ฎ๐ง๐๐๐ง๐ ๐๐ฅ๐๐ก๐ข yang mendalam dalam pergerakan sejarah.
Ketika Allah Taโala menggabungkan antara menjadikan kaum tertindas sebagai pemimpin (๐๐๐๐) dan menjadikan mereka sebagai pewaris, sesungguhnya Dia sedang menentukan sifat pewarisan yang diinginkan-Nya, serta menetapkan syarat-syarat internalnya sebelum manifestasi eksternalnya.
Maka, pewarisan dalam logika Al-Qurโan bukanlah sekadar kepemilikan atas tanah, bukan penguasaan atas kekayaan, dan bukan pula sekadar memegang kendali pemerintahan. Melainkan, ia adalah ๐ฉ๐๐ฐ๐๐ซ๐ข๐ฌ๐๐ง ๐ง๐ข๐ฅ๐๐ข-๐ง๐ข๐ฅ๐๐ข ๐๐๐ง ๐ซ๐ข๐ฌ๐๐ฅ๐๐ก, serta pewarisan peran peradaban yang menjadikan manusia sebagai saksi atas keadilan Ilahi dalam realitas. Oleh karena itu, seorang pemimpin (๐ผ๐๐๐) harus “dibentuk” sebelum kekuasaan diserahkan, dan manusia harus dididik dari dalam sebelum ia diberi kedudukan di muka bumi.
Sesungguhnya kaum tertindas (๐๐ข๐ ๐ก๐๐โ๐๐), selama masih membawa “logika penindas” di dalam dirinya, ๐ญ๐ข๐๐๐ค ๐ฅ๐๐ฒ๐๐ค ๐ฆ๐๐ง๐ฃ๐๐๐ข ๐ฉ๐๐ฐ๐๐ซ๐ข๐ฌ, meskipun posisi telah berganti dan slogan telah berubah. Al-Qurโan tidak menjanjikan revolusi yang hanya mengganti nama namun mempertahankan substansi, tidak pula gerakan yang menumbangkan satu tiran untuk menegakkan tiran lainnya. Al-Qurโan menjanjikan perubahan radikal yang menyentuh ๐ฌ๐ญ๐ซ๐ฎ๐ค๐ญ๐ฎ๐ซ ๐ฆ๐๐ง๐ฎ๐ฌ๐ข๐ ๐ฌ๐๐๐๐ฅ๐ฎ๐ฆ ๐ฌ๐ญ๐ซ๐ฎ๐ค๐ญ๐ฎ๐ซ ๐ฌ๐ข๐ฌ๐ญ๐๐ฆ.
Oleh sebab itu, kepemimpinan (๐ผ๐๐๐๐โ) dalam konteks ini adalah ๐ฌ๐ฒ๐๐ซ๐๐ญ bagi pewarisan, bukan hasilnya. Menjadikan kaum tertindas sebagai pemimpin berarti mereka harus mencapai tingkat kesadaran, kemurnian, dan istiqamah yang melayakkan mereka untuk memimpin manusia, bukan untuk mengeksploitasinya; untuk mengelola kekuasaan, bukan untuk bergantung padanya. Ini adalah ๐ค๐๐ฉ๐๐ฆ๐ข๐ฆ๐ฉ๐ข๐ง๐๐ง ๐ฉ๐๐ง๐๐ข๐๐ข๐ค๐๐ง sebelum kepemimpinan pemerintahan, dan ๐ค๐๐ฉ๐๐ฆ๐ข๐ฆ๐ฉ๐ข๐ง๐๐ง ๐ค๐๐ญ๐๐ฅ๐๐๐๐ง๐๐ง sebelum kepemimpinan keputusan.
Di sinilah jelas perbedaan mendasar antara revolusi risalah yang dipimpin para Nabi dan revolusi sosial yang dikenal dalam sejarah manusia. Yang terakhir ini sering kali hanya mencukupkan diri dengan redistribusi kekuatan dan pertukaran posisi pengaruh, sehingga alat-alat kezaliman berpindah dari satu kelas ke kelas lain, dari satu tangan ke tangan lain, sementara jiwa (semangat) yang memerintah tetaplah sama. Adapun revolusi yang dipimpin oleh Wahyu, ia adalah revolusi melawan kezaliman sebagai kondisi psikologis dan intelektual sebelum menjadi realitas politik.
Penghapusan eksploitasi dalam logika para Nabi tidak hanya berarti menyingkirkan si pengeksploitasi, melainkan ๐ฆ๐๐ง๐๐๐๐ฎ๐ญ ๐๐ค๐๐ซ-๐๐ค๐๐ซ ๐๐ค๐ฌ๐ฉ๐ฅ๐จ๐ข๐ญ๐๐ฌ๐ข dari jiwa manusia, agar ia tidak memproduksi ulang dirinya dalam jubah baru. Oleh karena itu, proyek Ilahi tidak terburu-buru dalam memberikan kekuasaan (๐ก๐๐๐๐๐), dan tidak memberikannya kepada mereka yang belum matang. Karena kekuasaan sebelum penyucian jiwa (๐ก๐๐ง๐๐๐ฆ๐โ) tidak akan melahirkan pewaris, melainkan melahirkan tiran-tiran baru.
Ayat mulia ini membebankan tanggung jawab sejarah kepada kaum tertindas, sebesar janji Ilahi yang diberikannya kepada mereka. Ayat ini mengatakan kepada mereka bahwa jalan menuju pewarisan (kekuasaan) harus melalui kepemimpinan (๐ผ๐๐๐๐โ), jalan menuju kepemimpinan harus melalui penyucian jiwa (๐ก๐๐ง๐๐๐ฆ๐โ), dan jalan menuju penyucian jiwa harus melalui kesadaran, kesabaran, dan jihad internal sebelum jihad eksternal.
Demikianlah menjadi jelas bahwa mewarisi bumi bukanlah tujuan pada dirinya sendiri, melainkan sarana untuk menegakkan kebenaran. Bahwa kepemimpinan bukanlah hak istimewa, melainkan beban yang berat. Dan bahwa proyek Ilahi tidak mencari sekadar perubahan politik, melainkan ๐ฉ๐๐ฆ๐๐๐ง๐ ๐ฎ๐ง๐๐ง ๐ฆ๐๐ง๐ฎ๐ฌ๐ข๐ ๐๐๐ซ๐ฎ; yang jika diserahi bumi ia tidak merusaknya, jika diberi kekuasaan ia tidak melampaui batas, dan jika menjadi kuat ia tetap adil.
Inilah perbedaan antara siapa yang mewarisi bumi dengan ๐ฅ๐จ๐ ๐ข๐ค๐ ๐ค๐๐ค๐ฎ๐๐ญ๐๐ง, dan siapa yang mewarisinya dengan ๐ฅ๐จ๐ ๐ข๐ค๐ ๐ซ๐ข๐ฌ๐๐ฅ๐๐ก; yang pertama memilikinya, sedangkan yang kedua memikul amanahnya.
Penulis ๐๐ฌ-๐๐๐ฒ๐ฒ๐ข๐ ๐๐ฌ๐ฒ-๐๐ฒ๐๐ก๐ข๐ ๐๐ฎ๐ก๐๐ฆ๐ฆ๐๐ ๐๐๐ช๐ข๐ซ ๐๐ฌ๐ก-๐๐ก๐๐๐ซ
Editor : Tubagus XVII
Views: 3







