Beranda / Trending / Pertarungan “Wali Songo” vs “9 Naga” di zaman Metaverse

Pertarungan “Wali Songo” vs “9 Naga” di zaman Metaverse

Bagian kelima

Tangerang (babadbanten.com). Sudah mafhum semua, kemunculan konglomerasi 9 Naga buah dari kebijakan Politik Ekonomi Rezim Orde Baru. Selama 32 tahun para taipan disusui atau menyusu di bawah ketiak Penguasa Rezim Orba. Kebijakan Top Down effect menjadi dasar kebijakan sang penguasa untuk membesarkan sekelompok kecil “taipan” yang kemudian diharapkan dapat meneteskan kue ekonominya kepada rakyat bawah. Namun faktanya jauh panggang dari api. Tidak ada “kaum pribumi” yang mendapatkan fasilitas yang spesial dari rezim. kecuali mungkin circle paling dekat saja yang mendapatkan fasilitas khusus seperti kebijakan mobnas Timur yang sempat heboh.

Di zaman rezim penguasa orba para Taipan merajai semua sektor penghidupan bangsa dari hilir ke hulu. Kita ambil contoh nyata Salim Grup yang menguasai sektor food hingga finance. Walaupun saat ini sektor finance sudah tidak menjadi fokus Salim Grup lagi karena BCA yang menjadi iconnya sudah dilepas ke Grup Djarum.

Namun tetap saja Salim Grup masih menjadi raja Taipan yang kokoh. Sektor Food dengan produk Mie Instan seperti Indomie dan segala turunan hingga kini masih menjadi Raja di Indonesia bahkan sudah merambah ke belahan dunia lainnya.

Begitupun dengan taipan lainnya. Mereka menguasai pasar Pulp Kertas domestik dan dunia dengan tokoh sentralnya Prayogo Pangestu, sektor Properti dengan motornya sinar mas grup dengan Icon BSDnya, serta Ciputra dengan icon Pondok Indah dan kemudian berkembang dengan icon Citra Rayanya.

Konglomerasi Para Taipan masih terus bergerak baik senyap ataupun terang-terangan dan yang masih banyak lagi sektor penting hajat hidup rakyat yang sudah mereka kuasai.

Pasca Runtuhnya Rezim Orde Baru, kekuatan “Para Taipan” semakin bertambah seiring dengan perubahan sistem politik di Indonesia. Gerakan Reformasi yang memporak-porandakan semua pondasi kebijakan politik orde Baru memberikan jalan atau ruang kepada para taipan untuk merambah ranah politik. Meskipun tidak terlalu mencolok mereka yang sudah terbiasa “bermain mata” dengan kekuasaan perubahan iklim politik bangsa dimanfaatkan secara maksimal. Tokoh-tokoh dari kalangan Tionghoa yang dulu alergi dengan politik mulai terlihat masuk dalam ranah tersebut.

Di zaman awal reformasi kita melihat Tokoh Alvin Lie dari PAN yang mampu memainkan perannya dengan baik sebagai anggota DPR RI. Bahkan tokoh Tionghoa lainya seperti Enggartiasto Lukito menjadi Menteri Perdagangan.

Perubahan iklim politik ini justru memberi angin segar setelah Presiden Gus Dur mengambil kebijakan mengakui Imlek menjadi libur nasional dan menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari bangsa Indonesia. Saudara-saudara kita dari etnis Tionghoa benar-benar merasakan eksistensinya mendapatkan pengakuan yang luar biasa. Karena sebelumnya di zaman orde baru, dari kalangan etnis Tionghoa sangat sulit untuk bisa berkiprah dalam ranah politik.

Dampak dari perubahan politik karena adanya Gerpol 98 yang tidak terantisipasi dengan seksama “kaum pribumi” yang memang sudah tertinggal secara ekonomi semakin tidak berdaya. Meskipun terlihat gagah tapi sebenarnya kere. Terlebih, ternyata demokrasi sangat memerlukan logistik yang super jumbo. Dan ini hanya di pegang oleh segelintir orang yang saat ini dipersepsikan oleh publik sebagai 9 Naga. (Bersambung/red/ts101).

Views: 0

Tag:

Tinggalkan Balasan