Sang Sultan
Memilih Jalan Sunyi
Tangerang, Senin 02/03/2026 (babadbanten.com). Aku baca paragraf sejarah runtuhnya kesultanan Banten dengan pelan-pelan. Dengan kepala dingin dan dengan hati yang dibungkus salju.
Aku sadar, membaca sejarah harus bersih dari kemarahan, ego, dan asumsi yang subjektif.
Apalagi ini sejarah tanah leluhurku. Banten, Tanah Air yang penuh dengan keberkahan, penuh Karomahnya para waliyullah. Namun masih diselimuti tebal oleh misteri yang penuh teka-teki.
Banyak orang takjub tapi banyak juga yang meremehkan. Bahkan banyak juga yang sok gaya dan menari-nari dengan songongnya. Karena mereka menganggap Kesultanan Banten dan para keturunannya hanyalah masa lalu.
Pikir mereka, sekarang mereka bisa apa. Tidak ada tokoh yang bisa diandalkan dan menjadi panutan yang dapat dibanggakan.
Mereka pikir, sekarang seperti kurcacil-kurcacil yang tidak berdaya. Sekalipun ada yang muncul dari mereka tidak memiliki power yang menentukan.
Betul, tidak ada yang perlu dibanggakan. Tapi tidak perlu juga harus minder. Meskipun sekarang roda zaman sedang di bawah. Keyakinan sebagai keturunan Kesultanan Banten harus kokoh.
Para pinisepuh selalu mengajarkan kepadaku bahwa kesultanan Banten pasti tegak kembali secara utuh. Ini bukan sekedar dogma pasif yang wajib diterima. Tapi merupakan ruh yang hidup yang terus bergerak membangun kesadaran setiap keturunan Sultan Banten.
Siapapun keturunan dari Sultan Banten tahu dogma itu. Dogma yang telah bermetamorfosis menjadi keyakinan.
Sekarang, kita menunggu dengan Sabar kepada Sang Waktu yang memiliki kewenangan menentukan waktunya.(Bersambung).
Cerber Tubagus Soleh, Ketum Pucuk Umun BABAD BANTEN
Views: 8







