Bagian keenam
Tangerang (babadbanten.com). Seperti mendapat durian yang jatuh dari pohonnya. Perubahan Politik di Indonesia Akibat gerpol 98 membuka katub yang selama ini tertutup rapat yang sangat mustahil bisa dibuka oleh siapapun.
Namun sepertinya, kehendakNya jua yang menghendaki terjadinya perubahan tersebut. Gerakan politik yang begitu keras untuk meruntuhkan kekuasaan orde baru tidak diimbangi oleh kesiapan mental dan ekonomi yang berpihak pada rakyat kebanyakan.
Padahal seandainya saja gerakan politik 98 sudah berhitung matang dari sisi kesiapan ekonomi rakyat kecil, kemungkinannya perubahan politik tidak begitu berdampak begitu besar kepada rakyat. Rakyat tidak akan mungkin menjadi “pengemis politik”. Tapi akan memanfaatkan kesempatan dan peluang tersebut untuk memperkuat barganing politik untuk kesejahteraan rakyat.
Partai-partai tumbuh bagaikan jamur di musim hujan. Seiring waktu, ketokohan 98 mulai redup. Karena Paket Reformasi gagal mewujudkan harapan rakyat. Perubahan politik dari rezim orde baru ke rezim Reformasi tidak memberikan perubahan signifikan bagi kesejahteraan rakyat. Agenda penghapusan KKN (kolusi korupsi dan nepotisme) yang begitu nyaring ternyata hanya untuk menghantam elit politik tertentu. Bahkan di era rezim Reformasi praktek KKN sudah tanpa rasa malu-malu lagi.
Lihatlah pejabat yang terkena OTT KPK dan Kejagung, mereka bangga dengan senyumannya dan menenteng koper ke dalam gedung KPK dengan mengenakan Jaket orange.
Maka tidak mengherankan bila celah mental anak bangsa kita yang masih rapuh ini menjadi pintu masuk yang paling mudah untuk “menguasai” sumber daya kekayaan bangsa baik SDA yang melimpah maupun SDM yang berkualitas yang bisa dimanfaatkan untuk proxy asing.
Disinilah sesungguhnya konteks “Walisongo” di zaman Metaverse harus kita pahami dan tempatkan. Agar kita tidak terkungkung oleh kehaluan yang membekukan.
“Walisongo” sebagai sebuah entitas spesial pada zamannya yang telah mampu menjadi pemandu bangsa Nusantara mencapai kejayaannya harus bisa dimaknai dalam konteks kekinian.
Sebab zaman sekarang di era Metaverse pun pertandingannya masih terus berlangsung dan akan terus berlanjut sampai siapa yang sesungguhnya berhak mendapatkan supremasi sebagai yang terkuat dan menang dalam pertandingan akhir zaman di Nusantara ini. Apakah Walisongo ataukah 9 Naga. Waktu yang akan membuktikan dan menjadi saksinya.(red/TS/101).
Views: 0







