Menelusuri Jejak Keturunan Ki Mauk, putra Bangsawan Banten yang beribukan Putri Tionghoa
Oleh : Kang Hamdan Nata Baschara, Ketum Waruga Wangsa dan Penggiat Sejarah dan Budaya Tangerang.
Tangerang, Rabu 20/05/2026 (babadbanten.com). Pesisir utara Tangerang sejak dahulu dikenal sebagai wilayah yang menjadi titik pertemuan berbagai budaya, dulu daerah tersebut dikenal Muara yang wilayahnya sekarang Kosambi sampe wilayah Kronjo. Jalur perdagangan yang ramai membuat kawasan ini didatangi banyak pendatang dari berbagai daerah dan bangsa. Di tengah dinamika sejarah tersebut, masyarakat masih menyimpan kisah tentang seorang tokoh yang dipercaya memiliki peran penting dalam perkembangan wilayah Mauk dan sekitarnya, yakni Ki Mawuk.
Berdasarkan keterangan salah satu keturunannya kang lihin bahwa Ki Mawuk yang memiliki nama bangsawan Pangeran Daka dan memiliki nama tionghoa lie Manwoek adalah Sosok putra bangsawan Banten keturunan Pangeran Muhammad Chan/Pangeran Mawuk yang menikah dengan Cie lie Ning Roudhoh Can binti Bukhori Ning Chan, Pangeran Muhammad Chan/Pangeran Mawowk adalah putra Pangeran Arya Abdul Alim yang menikahi Putri Arya Yudhanegara / AriaTanggeran II, Nyi Raden Ratna Komala.
Nama Ki Mawuk hingga kini tetap hidup dan melekat menjadi identitas salah satu kecamatan di Kabupaten Tangerang, yaitu Mauk. Bagi masyarakat setempat, nama itu bukan sekadar penanda wilayah, melainkan simbol sejarah panjang tentang perjuangan, kepemimpinan, dan percampuran budaya yang telah berlangsung selama ratusan tahun di pesisir utara Tangerang, hal tersebut diperkuat oleh pengakuan dari salah satu pengurus kenadziran Maulana Yusuf Kasunyatan, Tubagus syafarudin yg dikenal ntus plituk.
Cerita mengenai Ki Mauk diwariskan secara turun-temurun melalui tradisi lisan. Masyarakat tua di kawasan pesisir percaya bahwa Ki Mauk merupakan keturunan bangsawan atau pejabat penting Kesultanan Banten yang diberi tugas membantu ayahnya menjaga wilayah pesisir utara dari ancaman luar. Pada masa itu, pesisir Tangerang menjadi jalur strategis perdagangan sekaligus pintu masuk bagi bangsa asing yang datang ke Pulau Jawa.
Kesultanan Banten sendiri dikenal sebagai kerajaan maritim besar yang memiliki hubungan dagang luas dengan berbagai negara, termasuk pedagang dari Tiongkok, Arab, India, hingga Eropa. Aktivitas perdagangan di pelabuhan Banten menciptakan hubungan sosial yang erat antara masyarakat lokal dengan komunitas pendatang. Dari hubungan inilah muncul berbagai bentuk akulturasi budaya, termasuk pernikahan antar etnis.
Menurut cerita yang berkembang di masyarakat dan para keturunannya bahwa Ki Mawuk menikahi seorang putri dari keluarga Tionghoa terpandang yang memiliki pengaruh dalam perdagangan pesisir yaitu Cie Liening Roudhoh Chan Binti Bukhori Ning Chan, dari sinilah gelar Marga Chan yang diambil dari marga istrinya.
Keluarga sang putri disebut-sebut memiliki hubungan erat dengan jaringan perdagangan di wilayah Banten dan Batavia. Pernikahan tersebut dianggap sebagai simbol persatuan antara kalangan bangsawan Banten dengan komunitas Tionghoa yang saat itu mulai berkembang di kawasan pesisir utara Jawa.
Kisah ini memperlihatkan bahwa hubungan masyarakat Banten dengan etnis Tionghoa pada masa lalu tidak selalu dipenuhi konflik seperti yang sering digambarkan dalam sejarah kolonial. Sebaliknya, hubungan itu juga diwarnai kerja sama ekonomi, persaudaraan, hingga ikatan keluarga. Di wilayah pesisir Tangerang, percampuran budaya tersebut bahkan melahirkan identitas masyarakat yang unik.
Jejak akulturasi budaya Banten dan Tionghoa masih dapat ditemukan hingga sekarang di kawasan Mauk dan sekitarnya. Hal itu terlihat dari tradisi masyarakat, kuliner khas pesisir, hingga bahasa sehari-hari yang banyak dipengaruhi unsur Betawi, Sunda Banten, dan Tionghoa. Beberapa keluarga tua di kawasan tersebut juga masih menyimpan cerita tentang leluhur mereka yang dipercaya memiliki hubungan darah dengan Ki Mauk.
Sebagian masyarakat meyakini bahwa keturunan Ki Mauk tersebar di sejumlah desa pesisir utara Tangerang. Garis keturunan itu diwariskan melalui silsilah keluarga yang dijaga secara turun-temurun. Walaupun belum banyak catatan sejarah tertulis yang dapat membuktikan secara detail hubungan tersebut, cerita tentang Ki Mauk tetap menjadi bagian penting dari identitas masyarakat lokal.
Di sejumlah kampung tua, kisah tentang bangsawan Banten yang menikahi putri Tionghoa itu masih sering diceritakan dalam acara keluarga, pengajian, hingga tradisi adat. Cerita tersebut tidak hanya dianggap sebagai sejarah keluarga, tetapi juga sebagai simbol keharmonisan masyarakat pesisir yang sejak dahulu hidup dalam keberagaman.
Selain dikenal sebagai tokoh bangsawan, Ki Mauk juga dipercaya memiliki peran penting dalam menjaga pertahanan wilayah pesisir Banten. Pada masa kolonial, wilayah Tangerang utara menjadi daerah yang rawan konflik karena berada di jalur strategis antara Banten dan Batavia. Banyak tokoh lokal yang berusaha mempertahankan wilayah tersebut dari pengaruh penjajah.
Masyarakat pesisir percaya bahwa Ki Mauk termasuk salah satu tokoh yang ikut menjaga wilayah utara Banten dari ancaman luar. Karena itu, namanya dikenang sebagai sosok pemberani sekaligus pemimpin masyarakat. Hingga kini, makam yang terletak di Tanara dipercaya berkaitan dengan tokoh tersebut masih sering diziarahi warga, terutama pada waktu-waktu tertentu, masyarakat sekitar mengenalnya dengan Ki Buyut Jenggot.
Kisah tentang Ki Mauk juga mencerminkan bagaimana budaya pesisir terbentuk dari proses panjang pertemuan berbagai etnis. Di kawasan Tangerang utara, masyarakat pribumi, Tionghoa, Arab, dan pendatang lain hidup berdampingan sejak masa perdagangan maritim berkembang pesat. Interaksi tersebut melahirkan budaya baru yang khas dan berbeda dengan wilayah pedalaman.
Dalam kehidupan sehari-hari, pengaruh budaya Tionghoa di pesisir Tangerang dapat terlihat dari berbagai tradisi masyarakat. Beberapa makanan khas, bentuk rumah tua, hingga tradisi perayaan tertentu memperlihatkan adanya perpaduan budaya yang telah berlangsung lama. Hal ini menunjukkan bahwa hubungan antara masyarakat lokal dan komunitas Tionghoa telah menjadi bagian penting dalam sejarah perkembangan Tangerang.
Namun seiring perkembangan zaman, banyak generasi muda yang mulai tidak mengenal sejarah lokal di daerahnya sendiri. Kisah tentang Ki Mauk perlahan mulai jarang dibicarakan, terutama di tengah derasnya arus modernisasi dan pembangunan wilayah pesisir. Padahal sejarah lokal memiliki nilai penting untuk memperkuat identitas budaya masyarakat.
Para tokoh masyarakat dan pegiat sejarah lokal kini mulai mendorong upaya pelestarian sejarah Ki Mauk dan warisan budaya pesisir Tangerang. Mereka berharap cerita tentang bangsawan Banten yang menikahi putri tokoh Tionghoa ini dapat menjadi bagian dari pendidikan sejarah lokal bagi generasi muda. Dengan memahami sejarah daerahnya, masyarakat diharapkan lebih menghargai keberagaman budaya yang telah diwariskan leluhur mereka.
Selain itu, kisah Ki Mauk juga mengandung pesan penting tentang toleransi dan persatuan.
Pernikahan antara bangsawan Banten dengan putri Tionghoa pada masa lalu menunjukkan bahwa hubungan antar etnis dapat terjalin harmonis melalui rasa saling menghormati dan kerja sama. Nilai-nilai tersebut masih relevan untuk kehidupan masyarakat Indonesia saat ini yang hidup dalam keberagaman budaya dan agama.
Menelusuri jejak keturunan Ki Mauk bukan hanya soal mencari hubungan darah atau silsilah keluarga. Lebih dari itu, perjalanan sejarah ini menjadi cara untuk memahami akar budaya masyarakat pesisir Tangerang yang terbentuk dari perpaduan berbagai tradisi dan bangsa. Kisah tersebut juga menjadi pengingat bahwa keberagaman telah menjadi bagian dari sejarah panjang Nusantara sejak dahulu.
Di tengah perubahan zaman yang terus berlangsung, cerita tentang Ki Mauk tetap hidup dalam ingatan masyarakat pesisir utara Tangerang. Nama itu bukan hanya simbol sejarah, tetapi juga lambang persaudaraan lintas budaya yang pernah tumbuh kuat di tanah Banten. Dari pesisir Mauk, masyarakat belajar bahwa perbedaan bukanlah penghalang untuk membangun hubungan yang harmonis, melainkan kekuatan yang dapat memperkaya identitas dan warisan budaya bersama.
Sumber : Ikhtisar Riwayat Keluarga Waruga Wangsa dan sejarah Kabupaten Tangerang.
Editor : Mas Sae Noen
Views: 83






