Beranda / Trending / Istri-istri Syekh Asnawi Bukan Selir

Istri-istri Syekh Asnawi Bukan Selir

Catatan Tubagus Fahman Arafat, Rois JATMAN Wustho Banten

Meluruskan Persepsi tentang Istri Syekh Asnawi

Istri-istri Syekh Asnawi Caringin sering kali disalahpahami oleh beberapa pihak yang terlalu fanatik terhadap status keningratan. Pandangan bahwa istri beliau adalah selir tidaklah benar. Semua pernikahan Syekh Asnawi dilakukan sesuai dengan syariat Islam, disertai dengan landasan tarekat, hakikat, dan ma’rifat.

Setelah istri pertamanya wafat, Syekh Asnawi menikah kembali. Beliau memiliki lima istri dalam hidupnya, tetapi semuanya dinikahi secara sah, bukan sebagai selir. Tuduhan bahwa istri kedua hingga kelima adalah selir adalah kesalahpahaman yang perlu diluruskan.

Daftar Istri dan Keturunan Syekh Asnawi

Berikut adalah istri-istri Syekh Asnawi dan jumlah anak yang mereka miliki:

  1. Nyai Hj. Ajengan Tufi Halimah: Memiliki 9 anak.
  2. Nyai Hj. Ratu Saribanun: Memiliki 5 anak.
  3. Nyai Hj. Syarifah (IPOL) Aisyah: Memiliki 4 anak.
  4. Nyai Hj. Ratu Salfah: Memiliki 4 anak.
  5. Nyai Rafi’ah: Tidak memiliki keturunan karena perpisahan dengan Syekh Asnawi saat beliau dibuang ke Jakarta.

Semua istri dan anak-anak Syekh Asnawi hidup rukun dan damai di bawah bimbingan dan kasih sayang beliau.

Peristiwa Pengasingan Syekh Asnawi

Pada tahun 1926, Syekh Asnawi bersama keluarganya dibuang oleh penjajah Belanda ke Jakarta selama satu tahun. Setelah itu, mereka dipindahkan ke Cianjur dan menjalani masa pengasingan selama lebih dari empat tahun. Selama masa ini, istri terakhir beliau, Nyai Rafi’ah, memutuskan untuk pulang ke kampung halamannya dengan izin Syekh Asnawi.

Meskipun berada dalam pengasingan, Syekh Asnawi tetap menerima kunjungan dari murid-murid dan saudara-saudaranya. Banyak tokoh ulama datang berguru kepada beliau, seperti KH. Jahari Ceger, Kiyai Salim Kobak Rante Bekasi, Ajengan Satibi Gentur, Ajengan Tubagus Bakri Sempur Plered Purwakarta, dan Ajengan Falah Pagentongan Bogor.

Kembalinya Syekh Asnawi ke Caringin

Pada pertengahan tahun 1931, Syekh Asnawi dibebaskan tanpa syarat oleh Belanda. Beliau kembali ke Caringin dan menghabiskan sisa hidupnya di sana. Hingga akhir hayat, Syekh Asnawi tetap menjadi panutan umat dan meninggalkan warisan spiritual yang besar.


Optimisasi SEO Yoast:

Views: 22

Tag:

Tinggalkan Balasan