TANGSEL (babadbanten.com) – Sejarah menunjukkan bahwa kisruh politik dalam siklus 30 tahunan sering terjadi di Indonesia. Fenomena ini patut menjadi perhatian seluruh rakyat agar tidak terulang kembali. Sebab, penyebab utamanya sering kali terkait dengan suksesi kepemimpinan nasional yang tidak berjalan mulus.
Jejak Kisruh Politik Bangsa
Pada tahun 1966, masa pemerintahan Presiden Soekarno diwarnai dengan pergantian kepemimpinan yang tidak sesuai dengan mekanisme musyawarah mufakat dalam demokrasi Pancasila. Proses yang tidak mulus ini meninggalkan luka dalam sejarah politik Indonesia.
Kemudian, tahun 1998 menjadi masa penuh gejolak. Reformasi yang ditandai dengan mundurnya Presiden Soeharto menyisakan luka multidimensi yang hingga kini masih terasa dampaknya.
Selanjutnya, kisruh politik tahun 2001 terjadi saat Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dimakzulkan. Proses ini juga meninggalkan luka sosial yang dalam, yang hingga kini belum sepenuhnya sembuh.
Pola dan Dampak Kisruh Politik
Meski isu yang melatarbelakangi setiap kisruh politik berbeda, pola akhirnya serupa: pemakzulan presiden. Siklus ini tampaknya terjadi setiap 30 tahun, dan bangsa Indonesia harus lebih waspada agar tidak mengulang sejarah kelam tersebut.
Proses demokrasi yang telah berjalan baik harus dijaga dan ditingkatkan. Bukti keberhasilan demokrasi terlihat pada pergantian presiden dari Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) ke Joko Widodo (Jokowi), dan kini ke Prabowo Subianto. Pergantian tersebut berlangsung dengan lancar tanpa meninggalkan luka sosial.
Tuduhan OCCRP dan Framing Politik
Tubagus Soleh, Ketua Umum Pucuk Umun BABAD BANTEN, menyampaikan pandangannya terkait tuduhan OCCRP terhadap Presiden Joko Widodo. Menurutnya, tuduhan itu merupakan framing jahat yang bertujuan menciptakan persepsi negatif terhadap pemimpin bangsa. “Ini adalah awal dari potensi keruwetan politik yang berbahaya bagi bangsa kita,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa sikap saling menghormati terhadap pemimpin bangsa, meskipun ada perbedaan politik, harus terus dijaga. “Kita harus belajar dari sejarah dan menghindari mengulang siklus kisruh politik yang merugikan,” tegasnya.
Pentingnya Kearifan dan Kesadaran Berbangsa
Tubagus Soleh mengimbau para pemangku kebijakan dan kepentingan untuk menjaga keberlanjutan kepemimpinan nasional. Ia berharap proses transisi dari Jokowi ke Prabowo dapat berjalan dengan lancar seperti pergantian dari SBY ke Jokowi. “Kita ingin keberlanjutan pembangunan tetap terjaga tanpa meninggalkan luka sosial,” pungkasnya.
Kesimpulan
Siklus kisruh politik 30 tahun-an adalah pelajaran berharga bagi bangsa Indonesia. Dengan menjaga demokrasi dan menghormati pemimpin, bangsa ini dapat terus maju tanpa harus mengulang sejarah kelam. Kearifan dan kesadaran menjadi kunci untuk menghindari konflik dan membangun masa depan yang lebih baik.
Views: 0







