THE END IS NEAR: TATA ULANG SISTEM KEUANGAN DUNIA DAN POSISI INDONESIA
Tangerang, Jum’at 31/07/2026 (babadbanten.com). Tanggal 27 Maret 2026 Nathaniel C J Rothschild tokoh Dinasti Bankir tertua di dunia, di akun medsosnya mengunggah “The End is Near”. Dan tepat 4 bulan kemudian 27 Juli 2026, Gubernur BI mundur. Kebetulan? Dalam geopolitik, tidak ada yang kebetulan.
Mari kita bedah dan analisa masalahnya:
Dalam kacamata geoekonomi, kita tarik mundur satu dekade dulu. Pada awal periode pertama, Presiden Joko Widodo mendapat data anomali yang intinya uang beredar 200% lebih dari yang dicetak BI. Artinya? Itu indikator kuat adanya praktek “uang kloning”. Dan ini juga diperkuat oleh Sri Mulyani ketika menjabat sebagai Managing Director World Bank saat itu.
Modus skemanya: Rupiah dikloning, lalu dikonversi ke US$ dan menjadi “cash collateral” bagi negara pemilik mata uang. “Cash collateral” ini lalu dipakai sebagai jaminan oleh The Fed untuk mencetak US$ baru. Kemudian US$ baru itu dibeli lagi oleh jaringan mafia kloning. Alhasil lingkaran setan terbentuk.
Dampaknya? Indonesia rugi 2 kali. Nilai tukar Rupiah tertekan, dan inflasi merangkak naik akibat terlalu banyak uang beredar. Sementara negara pemilik valas justru untung disebabkan cadangan valasnya “sah” karena ada transaksi jual-beli.
Itulah kenapa Presiden Prabowo Subianto sering menyebut “antek asing” yang dimaksud bisa jadi salah satunya adalah kelompok mafia ini.
Masalahnya, The Fed adalah bank sentral yang bernuansa privat dan dikendalikan “Rezim Bankir”. Guritanya sampai ke Indonesia, salah satunya lewat jaringan konglomerat. Misalnya, membentuk “coal champion” merger antara Bumi Plc Bakrie dan Rothschild di tahun 2010. Meski pada akhirnya di atas panggung mereka tampak berseteru tanpa kita tahu apa yang sebenarnya terjadi di belakang layar.
Perlawanan terhadap Rezim Bankir ini bukan hanya dilakukan oleh Rezim Prabowo. Donald Trump juga memiliki agenda yang sama. Karena itu kemenangan Prabowo dan Trump yang berdekatan bukan sekadar politik. Ini punya misi sama: memotong hegemoni Rezim Bankir.
Meski memicu kontroversi dan alurnya sulit untuk dicerna oleh para analis geopolitik, Trump telah mendorong perang di Timur Tengah. Tujuannya, untuk menguras kapital mereka. Di dalam negeri, Trump juga berhasil mengganti nahkoda bank sentral The Fed dengan orangnya.
Sementara Prabowo, membangun SWF Danantara, menerbitkan Global Bond Merah Putih dan Patriot untuk memulangkan “old money” yang sekian dekade diparkir dan dimanipulasi Rezim Bankir.
Lalu, apa hubungan antara “The End is Near” dengan mundurnya Gubernur BI Perry Warjiyo menyusul setelah tergesernya Direktur The Fed Jerome Powell 2 bulan lalu?
Ini adalah sinyal, bahwa hegemoni Rezim Bankir mulai melemah karena 2 hal. Kapitalnya terkuras, dan kolateral utamanya, yaitu Aset Nusantara tak bisa lagi dimanipulasi.
Mundurnya Gubernur BI di tanggal yang sama 4 bulan pasca “The End is Near” seakan makin menegaskan bahwa sistem keuangan global sedang ditata ulang dan lepas dari cengkraman serta hegemoni Rezim Bankir lama.
Indonesia tidak lagi jadi pihak yang dieksploitasi, tapi justru diposisikan menjadi pusat finansial global baru. Syaratnya, tata kelola yang bersih, transparan, dan akuntabel. Makanya sekarang kita lihat agenda “bersih-bersih total”. Targetnya, para koruptor dan mafia uang kloning. (Sans)
Disclaimer: Tulisan ini bukan tuduhan, melainkan Analitika Geopolitik dalam upaya membaca pola besar.
Views: 8






