Beranda / Trending / 445 tahun usia gelar TUBAGUS: Quo Vadis?

445 tahun usia gelar TUBAGUS: Quo Vadis?

445 tahun usia gelar TUBAGUS: Quo Vadis?

Tangerang, Ahad 29/juni/2025 (babadbanten.com). Di kitab sejarah panjang Kesultanan Banten, ada ketiga gelar keturunan yang sering digunakan oleh anak keturunan Sultan Banten.

Pertama, gelar Syarif. Ini mengacu kepada leluhur Sultan Banten yaitu Syekh Syarif Hidayatullah Cirebon.

Kedua gelar Raden. Ini pakai oleh sebagian dari anak keturunan dari beberapa Sultan Banten. Tergantung dari tradisi keluarga masing-masing.

Namun ada satu gelar kebangsawanan yang sangat melekat kuat pada keturunannya Sultan Banten: Yaitu gelar Tubagus.

Gelar ini tak sekadar penanda status sosial, melainkan juga simbol garis keturunan langsung dari para sultan Banten yang dipercaya bersambung hingga ke Nabi Muhammad SAW.

Dalam sistem monarki di Nusantara, gelar kebangsawanan terbagi menjadi tiga kategori. Pertama gelar keturunan. Kedua gelar jabatan dan ketiga gelar kehormatan.

Di antara ketiganya, gelar keturunan dianggap yang paling utama karena menjadi syarat dasar penerus kekuasaan kerajaan.

Di tanah Jawa, penggunaan gelar bangsawan seperti Raden umum dijumpai. Namun, masing-masing daerah memiliki pola pewarisan tahta kekuasaan yang berbeda.

Di Mataram, gelar bisa diwariskan melalui garis laki-laki maupun garis perempuan (bilateral), sementara di wilayah Sunda, meskipun mengenal sistem bilateral, pewarisan gelar lebih condong melalui garis ayah (patrilineal).

Berbeda dengan dua wilayah tersebut, Banten memiliki tradisi gelar bangsawan yang khas. Gelar Tubagus untuk laki-laki dan Ratu untuk perempuan adalah penanda khusus bagi keturunan langsung dari Sultan Maulana Hasanuddin, pendiri Kesultanan Banten sekaligus putra dari Sunan Gunung Jati, tokoh Walisongo yang juga dikenal sebagai Syekh Syarif Hidayatullah Cirebon.

Menurut sejumlah sumber sejarah, istilah Tubagus berasal dari kata “Ratu Bagus”. Ada pula pendapat yang menyebut asal katanya dari bahasa Arab, yakni Tuba dan Ghaus, yang berarti “kebahagiaan yang dilindungi”.

Gelar ini pertama kali muncul pada masa Sultan Maulana Yusuf, Raja Banten kedua yang sudah berdaulat penuh dan pewaris sah kerajaan Padjajaran.

Seiring berjalannya waktu, para keturunan Kesultanan Banten menyebar ke berbagai daerah di Indonesia. Kita bisa melihat, gelar Tubagus pun dapat dijumpai di luar wilayah Banten.

Meskipun begitu, tidak semua keturunannya menggunakan gelar tersebut secara terbuka. Sebagian memilih menyembunyikannya atas dasar ketawaduan (kerendahan hati), atau kehati-hatian, atau bisa juga mengikuti amanat leluhur dari masing-masing keluarga.

Namun meski demikian, mereka tetap menjaga dan mengakui garis nasabnya, sebab dalam ajaran Islam, menafikan keturunan dianggap sebagai dosa besar. Maka, penyematan gelar Tubagus tidak hanya bermakna budaya, tetapi juga mencerminkan tanggung jawab moral untuk menjaga warisan luhur dari para leluhur.

Gelar Tubagus adalah bagian dari identitas sejarah kesultanan Banten. Ia tidak hanya menandai keturunan darah biru, tetapi juga membawa makna spiritual yang mengakar pada nilai-nilai Islam dan akhlak mulia.

Jadi, Quo Vadis 445 Tahun Gelar Tubagus? (red/TS101)

babadbanten.com dari berbagai sumber

Views: 2

Tag:

Tinggalkan Balasan