Prinsip Perjuangan Syiar Islam Walisongo
“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya ahli kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.”(QS. Ali Imron : 110).
Tangerang, Kamis 17/04/2025 (babadbanten.com). Kurang lebih lima ratus tahun yang lalu, walisongo berdakwah dan berkeliling hampir ke seluruh pulau jawa bahkan nusantara, hasil dakwahnya hingga kini bisa kita rasakan manfaatnya. Dengan dakwah yang lemah lembut sesuai yang dicontohkan oleh Kanjeng Nabi Muhammad SAW masyarakat Jawa dari ujung kulon hingga ujung wetan menerima Islam sebagai ajaran yang diyakini mampu menjadi panduan Hidup masyarakat Jawa saat itu bahkan nusantara.
Walisongo dalam menjalankan syiar Islam penuh kelembutan dan memiliki kemampuan beradaptasi dengan budaya masyarakat lokal. Sehingga terjadi dialog yang mencerahkan dengan warga lokal. Dengan penguasan mental dan spiritual serta intelektual yang mumpuni Walisongo mampu menerjemahkan ajaran Islam sebagai ajaran Rahmah bagi semua alam dalam konteks nusantara. Sehingga tidak ada penolakan dan pemaksaan kekuasaan dalam menerima islam sebagai ajaran yang benar dan suci. Maka tidak mengherankan bila kemudian masyarakat Jawa dari ujung kulon hingga ujung wetan pulau jawa menerima Islam sebagai ajaran yang diyakini benar dan menyelamatkan hidup di dunia dan di akherat.
Dalam mensyiarkan Islam, para Walisongo mempunyai prinsip-prinsip dasar yang terekam hingga saat ini adalah :
1. Ngluruk Tanpo Wadyo Bolo / Tanpo pasukan
Berdakwah dan berkeliling ke daerah menemui masyarakat tanpa membawa pasukan.
2. Mabur Tanpo Lar/Terbang tanpa Sayap
Pergi ke daerah peloksok nan jauh walaupun tanpa kendaraan.
3. Mletik Tanpo Sutang/Meloncat Tanpa Kaki
Pergi ke daerah yang sulit dijangkau seperti gunung-gunung juga tanpa walaupun harus merangkak.
4. Senjoto Kalimosodo
Senjata Utamanya adalah Kalimosodo : Kalimat Shahadat. Prinsip cukup Alloh dan RasulNya dipegang sangat erat oleh para Walisongo.
5. Digdoyo Tanpo Aji
Para Walisongo sangat yakin dengan Alloh dan RasulNYa. Dengan sikap mental spiritual dan intelektual yang mumpuni para walisongo tidak perlu harus membawa senjata atau “Aji”.
6. Perang Tanpo tanding
Mengajak dan mendidik warga masyarakat untuk mengenal dirinya sendiri serta memerangi nafsunya sendiri. Perang yang paling besar sesungguhnya adalah perang dengan hawa napsu kita sendiri. Dengan pendekatan sufi tersebut para walisongo tidak pernah berdebat dan bertengkar dan mensyiarkan Islam sebagai ajaran. Tidak pernah mengklaim Islam sebagai ajaran yang paling benar namun memberikan bukti nyata dalam akhlaknya.
7. Menang Tanpo Ngesorake/Merendahkan
Walaupun pada akhirnya warga masyarakat Jawa berbondong-bondong masuk Islam namun sikap mental spiritual dan intelektual yang mumpuni dari para walisongo tetap menghormati dan menghargai para petinggi atau bangsawan kerajaan karena dan lain hal menolak masuk Islam.
8. Mulyo Tanpo Punggowo
Dengan bersikap rendah hati merupakan kunci diterimanya syiar Islam ajaran yang disampaikan oleh para walisongo. Warga tetap memulyakan dan selalu memberi sambutan, tanpa pengawalan selayaknya Raja atau Sultan.
9. Sugih Tanpo Bondo
Para Walisosngo dalam mensyiarkan Ajaran Islam sudah memiliki mental bahwa memberi lebih baik dari pada meminta meskipun harta yang dimiliki walisongo tidak seperti kekayaannya para Raja, Adipati dan para bangsawan. Namun karena hati sudah merasa kaya maka tidak ada rasa minder dalam mensyiarkan ajaran Islam meskipun dihadapan para Raja, Adipati dan bangsawan kerajaan. Karena harta sesungguhnya adalah Islam itu sendiri.
Namun Semboyan seperti diatas sudah banyak dilupakan umatIslam masa kini. Padahal Pesan Walisongo diantaranya seperti pesan Sunan kalijogo masih relevan hingga kini. Diantaranya adalah :
1. Yen kali ilang kedunge
2. Yen pasar ilang kumandange
3. Yen wong wadon ilang wirange
4. Enggal-enggal topo lelono njajah deso milangkori ojo bali sakdurunge patang sasi, enthuk wisik soko Hyang Widi, maksudnya adalah : Apabila sungai sudah kering, pasar hilang gaungnya, wanita hilang rasa malunya, maka cepatlah berkelana dari desa ke desa jangan kembali sebelum empat bulan untuk mendapatkan ilham (ilmu hikmah) dari Allah SWT.
Akhlak Para Walisongo dalam berdakwah mempunyai sifat-sifat diantaranya :
1. Mempunyai sifat Mahabbah atau kasih sayang
2. Menghindari pujian karena segala pujian hanya milik Allah SWT
3. Selalu risau dan sedih apabila melihat kemaksiatan
4. Semangat berkorban harta dan jiwa
5. Selalu memperbaiki diri
6. Mencari ridho Allah SWT
7. Selalu istighfar setelah melakukan kebaikan
8. Sabar menjalani kesulitan
9. Memupukkan semua kejagaan hanya kepada Allah SWT
10. Tidak putus asa dalam menghadapi ketidak berhasilan usaha
11. Istiqomah seperti unta
12. Tawadhu seperti bumi
13. Tegar seperti gunung
14. Pandangan luas dan tinggi menyeluruh seperti langit.
15. berputar terus seperti matahari sehingga memberi kepada semua makhluk tanpa minta bayaran.
Para Walisongo adalah penerus dakwah Nabi Muhammad SAW, sebagai penerus atau penyambung perjuangan, mereka rela meninggalkan keluarga, kampung halaman dan apa-apa yang menjadi bagian dari hidupnya. Para Walisongo rela bersusah payah seperti itu karena menginginkan ridho Allah SWT. Karena yakin Islam merupakan ajaran yang bisa membimbing manusia untuk mendapat kejayaan di dunia dan akherat.
red/babadbanten.com
Editor : Raden Sadrun Muda
Views: 0







